SMS GRATIS BUAT SEMUANYA


SMS GRATIS BUAT SEMUANYA

Jumpa lagi sobat GATAN a.k.a Gratisan Mania. Kali ini tetap dalam topic yang sama yaitu “sms gratis”.Kali ini penulis tidak akan menerangkan secara mendetail, tapi penulis cuma menunjukkan link-link yang cukup bagus yang bisa kalian gunakan nantinya.Langsung aza kali ya, ga usah terlalu panjang lebar. Entar kalian keburu pusing lagi kelamaan dengerin ocehannya penulis.

  1. www.mig33.com klo kalian mau SMS, telepon SLJJ dan SLI gratis nih diye tempatnye. Cuman sampai artikel ini saya posting, sebenarnya saya sendiri belum sempat mencoba layanan dari situs ini. Kalo ada yang dah nyoba layanannya tolong berbagi pengalaman ya.
  2. www.1rstwap.com
  3. www.klub-mentari.com, khusus buat pengguna Mentari
  4. www.m3-access.com, layanannya cukup baik, anda bisa mengirim sampai 10 sms/hari. Hanya saja khusus buat pengguna IM3
  5. www.3jam.com, situs ini merupakan salah satu situs favorit saya, kenapa..?karena di situs ini layanannya cukup baik dan juga servernya jarang error. Dan yang terpenting anda tidak harus memiliki SIM Card dari operator tertentu, bahkan anda tidak mempunyai HP pun tidak masalah. Anda hanya tingal mendaftar di situs ini, kemudian anda bisa sms sepuasnya. Selain itu situs ini juga menyediakan fasilitas phonebook, jadi anda bisa menyimpan nomor-nomor telepon favorit anda.
  6. sms.ac
  7. sms.cyberphreaking.com di situs ini sebenarnya terdapat banyak link-link untuk mengirim sms gratis, akan tetapi waktu penulis mencoba mengirim sms sering kali gagal dilakukan.
Semuanya halal dan tidak merugikan orang lain. Sebenarnya masih banyak tempat lain yang menyediakan fasilitas sms gratis. Jika anda juga punya informasi tentang sms, telepon atau gratisan-gratisan yang lain marilah kita bersama saling berbagi. Mengapa harus dirahasiakan? karena jika semua orang tahu maka peluang operator besar untuk memonopoli semakin kecil semakin kecil fren. Semoga dengan usaha kita ini maka impian untuk mendapatkan tarif komunikasi yang murah di Indonesia menjadi kenyataan.

salam kenal,


Xuga Tan.

A Butterfly's Lesson (Chapter 1)











































SMS GRATIS KHUSUS BUAT PENGGUNA IM3 (Chapter 2)

SMS GRATIS KHUSUS BUAT PENGGUNA IM3
Chapter 2

Halo jumpa lagi sobat GATAN (Gratisan Mania). Kali ini penulis mo ngelanjutin pelajaran sms gratis buat pengguna IM3. Tapi sebelum penulis memulai pelajarannya, penulis mo nanya apa kalian sudah menggunakan kartu IM3..?apa ada yang belum, klo begitu cepet-cepet deh beli perdana IM3 dulu, klo ga penulis ga mau ngelanjutin nih pelajarannya.He..He...He….

Kenapa penulis menyuruh kalian beli kartu IM3 dulu, karena kali ini penulis mo ngasih tahu tips biar bisa sms gratis langsung dari HP anda, ya langsung dari HP bukan lagi dari komputer seperti yang penulis terangkan pada edisi yang lalu.

Pertama-tama siapin dulu nih bahan-bahannya :
  1. HP yang ada fasilitas GPRS dan WAP Browsernya. Klo HP kalian masih menggunakan HP jadul yang masih belon ada fasilitas GPRS dan WAP Browsernya sebaiknya kalian pegang HP kalian kemudian banting sekuat tenaga trus beli deh yang da fasilitas GPRS dan WAP Browsernya. He..He..He…(sory cuman bercanda bro)
  2. Kartu IM3 yang masih aktif dan sudah di registrasi
  3. Pulsa reguler min. Rp. 5000,-
Bagi kalian yang udah daftar di situsnya IM3 langsung aza aktifkan wap browser kalian, sedangkan bagi yang belum daftar dulu atau kalian bisa membaca artikel penulis yang berjudul SMS GRATIS KHUSUS BUAT PENGGUNA IM3 ( Chapter 1 ).

Arahkan WAP Browser kalian ke wap.m3-access.com, kalau sudah muncul halaman utamanya kemudian arahkan ke Messaging. Kemudian pilih WAP Mail.
Nah sampai disini anda di haruskan login dulu, kalau anda belum punya user dan password ayo buruan daftar gratis kok. Mau? Makanya pakeIM3 dunk.

6 Cara Menghemat Pulsa Handphone anda


6 Cara Menghemat Pulsa Handphone anda


Sumber: http://dudung.net

Tarif handphone naik memang menyesakkan dada. Namun membuang' handphone jelas tak mungkin dilakukan. Handphone telah menjadi salah satu perangkat pendukung terpenting aktivitas sehari-hari. Sungguh menyebalkan jika tarifnya terus menanjak. Mungkin beberapa hal berikut bisa dilakukan untuk mensiasati agar pulsa tak menggelembung.

1. Ganti ke Pasca Bayar

Bagi yang masih memakai pra bayar segeralah beralih. Tak perlu khawatir harus berganti nomor. Sekarang hampir semua operator memberi kemudahan migrasi. Cukup datang ke kantor pusat layanan operator. Tarifnya jauh lebih murah. Sekedar contoh, tarif percakapan kartu Matrix pada jam sibuk (08.00 -22.00 WIB) per menit ke PSTN Rp. 503, 75 ; ke nomor sesama Indosat Rp. 812,5 ; dan ke seluler operator lain Rp. 910. Sementara pada Mentari pada waktu yang sama per menitnya ke PSTN Rp. 816 ; ke nomor sesama Indosat Rp. 1500 ; dan ke seluler operator lain Rp. 1713.

Bahkan belum lama ini Telkomsel dan Indosat meluncurkan paket kartu pasca bayar yang bisa dipilih sesuai kebutuhan. Bila jeli memilih, Anda bisa menikmati tarif yang lebih ekonomis lagi. Ada tiga paket dari Telkomsel yaitu: free roaming, free 150 SMS, dan free Abonemen. Sementara Indosat mengeluarkan paket Matrix bebas roaming dan free abonemen.

2. Kurangi Menelepon Pada Jam Sibuk Bersyukurlah bagi pelanggan operator yang menerapkan tarif flat. Tak dibedakan argo pulsa antara siang atau malam. Pada kartu pra bayar hanya Simpati dan IM3 Smart yang tidak menggunakan tarif flat. Sedangkan untuk kartu pasca bayar, hampir semua operator membedakan tarif percakapan pada peak hour dan offpeak/ hari libur & raya. Rata-rata tarif percakapan pada jam sibuk per menitnya lebih mahal hingga 25 persen.

3. Gunakan SMS dan Layanan SMS Gratis

Paling mahal tarifnya cuma' Rp. 350. Sedangkan SMS internasional Rp 500. Komunikasi juga tak kalah asyik dibanding menelepon. Jika tak harus menelepon lebih baik pakai layanan SMS. Apalagi kini tak terbatas hanya 160 karakter. Tentu Anda harus mengaktifkan fitur �long messages' pada handphone Anda. Jika sedang selancar internet, manfaatkan layanan SMS gratisan. Anda bisa menggunakan layanan dari sms.ac, yahoo2SMS,atau mtnsms.com. Di paket kartu Halo Anda bisa SMS gratis sebanyak 150 kali. Lumayan kan?

4. Mulai Membiasakan Diri Dengan Layanan MMS

Ini lebih asyik lagi. Pesan bisa berupa gabungan suara, gambar, dan kata-kata sekaligus. Tak perlu khawatir dengan keterbatasan karakter. Sekali kirim bisa ribuan karakter. Dijamin uneg-uneg saat curhat' bisa tertampung semua hanya dengan beberapa kali kirim MMS. Tarifnya paling mahal hanya Rp. 1250 per MMS. Bisa dihitung lagi dengan pasti. Bila menelepon pasti tidak akan terasa. Tahu-tahu pulsa jebol.

5. Mainkan Konten Handphone

Pas sendiri atau berada di tempat yang asing', pasti Anda sering cari-cari kesibukan. Kirim SMS atau menelepon biasanya menjadi pilihan pertama. Kalau sudah begitu pulsa pasti kedodoran. Tentu Anda tak mau kan? Untuk menghilangkan rasa suntuk, sudah saatnya isi handphone dipakai semaksimal mungkin. Koleksi games dan ringtone bisa dimainkan. Agar tak membosankan rajin-rajinlah mengganti atau menambah koleksi itu. Biar tak ada lagi istilah bengong dan iseng menelepon teman setiap saat dimanapun Anda berada.

6. Manfaatkan layanan download gratis

Jangan terlalu banyak korbankan' pulsa Anda untuk download games, ringtone, wallpaper. Kalau ada yang gratisan kenapa tidak. Memang sih Anda akan masih dibebani tarif akses data GPRS. Tetapi jangan terlalu khawatir sebab lumayan murah, rata-rata hanya Rp.25 per kilobite. Bahkan Mobile-8 cuma Rp. 5 per kilobite. Sedang harga konten gratis. Kunjungi saja situs semacam Tagtag.com. Koleksinya pun lumayan lengkap. Minimal bila tertarik pada konten yang disediakan content provider jangan buru-buru beli. Cari saja terlebih dulu di situs gratisan itu.

---------
sumber : telset magazine

TIPS Merawat Baterai HP

TIPS Merawat Baterai HP


Cukup banyak yang masih bingung jika ingin ngecas baterai, apakah sebaiknya ponsel dimatikan atau dalam keadaan hidup. Sebetulnya cara merawat baterai ponsel sudah seringkali kita baca sejak booming ponsel di Tanah Air pada era 1990-an.

Tapi karena pelanggan ponsel bertambah dengan pesat maka informasi tersebut putus. Tampaknya sepele, namun menyebalkan ketika sedang asyik berbicara tiba-tiba beterai drop atau pembicaraan terputus. Padahal indikator baterai memperlihatkan “setrum” masih banyak.pada awal pembicaraan.

Walhasil pertanyaan seputar itu masih saja sering terlontar. Apalagi dengan adanya jenis baterai yang memiliki “bahan dasar” bukan nickel cadmium (Ni Cad). Jika termasuk golongan NiCad justru lebih awet. Namun karena kita sering malas mematuhi aturan isi ulang secara benar, usianya pendek. Pengalaman mereka yang selalu mematikan ponsel ketika mengisi ulang jenis baterai tersebut, bisa awet hingga 2 tahun!

Bagiamana dengan baterai lithium? Apakah sama cara pengisiannya dengan NiCad agar bisa tahan lama? Konon jenis baterai ini tahan lama dan lebih awet, sehingga belakangan ini lebih dicari pemakai ponsel. Dibanding NiCad, baterai lithium harganya relatih lebih mahal. Makanya sayang jika mahal-mahal usianya pendek, karena kita kurang mematuhi pakemnya.
Pertama yang harus diperhatikan adalah apakah baterai ponsel yang dipakai jenis lithium (Li-ion) atau bukan (NiCad atau NiMH). Perbedaan kedua jenis baterai ini, menurut pakar, sangat mendasar. Jenis lithium bisa diisiulang kapan saja, tanpa menunggu baterai habis.

Tapi jika termasuk jenis nickel, maka membutuhkan perhatian lebih khusus. Sebab harus menunggu setrumnya benar-benar habis, sampai tak bisa lagi dipakai untuk menghidupkan ponsel, sebelum men-charge-nya. Lakukan kebiasaan ini dengan disiplin setiap kali akan mengisi ulang baterai.
Ini untuk mencegah memory effect atau terus berkurangnya daya simpan. Setelah mengenal karakteristik baterai ponsel, ada beberapa hal lain yang bisa dilakukan untuk menjaga agar baterai tak cepat habis. Misalnya, jangan meletakkan pesawat ponsel di atas barang elektronik, seperti TV, audio set dan lemari pendingin, sebab medan magnet yang keluar dari alat-alat elektronik ini bisa mengganggu kinerja komponen-komponen ponsel.
Jangan sering mematikan lalu menghidupkan ponsel kalau tak terlalu penting. Sebab tiap kali menyalakan ponsel, secara otomatis ponsel akan mencari jaringan operator masing-masing yang membutuhkan energi hampir setara dengan satu jam waktu stand by. Jadi, kalau tak mau terganggu dering ponsel, aturlah ponsel dalam mode silent. Bila tidak punya fasilitas pengatur mode, perkecil deringnya.

Cabut charger bila baterai sudah penuh. Bila charger kita masih bagus, lalu terus-menerus men-charge maka bisa membuatnya cepat rusak. Kalau charger sudah tak bisa menghentikan kiriman setrum walau baterai sudah penuh, yang cepat rusak adalah baterai ponsel.

TIPS Merawat HP


Tips merawat hp:

1. Jangan mengganti Casing dg casing yg Non orisinil, biasa nya bentuk&ukurannya ga pas jd bisa merusak beberapa bagian ponsel.

2. Jangan men set volume dering hp pada tingkat Maksimal, bisa ngerusak Microphone

3. Jangan terlalu sering maen game di hp, bisa ngerusak key pad

4. Jangan terlalu sering mencopot baterai (bisa cepet ngedrop)

5. Sering menggonta-ganti simcard bisa ngerusak dudukan simcard

6. Jangan nge charge hp numggu ampe baterai nya habis & jangan ngecharge hp terlalu lama.<> soal nya klo kelamaan bisa ngurangi umur baterai

7. Hanya menginstal aplikasi yang berguna (u/ menghemat memori)

8. letakkan hp jauh dari barang2 ber magnet atu barang elektronik laennya

9. Gunakan Aksesoris yg sesuai.

Buat lo yang suka nge download software atau aplikasi di internet khusus nya buat smartphone seri60 lo bisa coba di:
www.nokiasoftware.nl ( banyak yg gratis),
www.handango.com ,
www.mysymbian.com ,
www.N-Gage.Help.com.

Tips menghemat pulsa Internet


Tips menghemat Pulsa Internet
Sumber: http://www.dudung.net

Teknologi Informasi 29 Oktober 2001 - 19:11 Tips Menghemat Pulsa Internet
Oleh : Onno W. Purbo

Apakah Anda pengguna internet. Bagaimana dengan pulsa internet Anda? Membengkakah atau normal-normal saja? Nah, agar Anda bisa menghemat pulsa internet Anda mesti simak kiat dari pakar internet ITB, Onno W. Purbo. Nah, berikut tips ala Onno W. Purbo :

Prinsip yang harus dipegang erat-erat sangat sederhana, usahakan semaksimal mungkin agar kegiatan yang kurang produktif dilakukan secara offline dan meminimalkan hal-hal yang sifatnya entertainment.

Sebaiknya jangan atau minimalkan akses ke web, jangan menggunakan free mail lewat web dan jangan melakukan IRC (chatting). Ketiga jenis aplikasi paling populer ini justru yang paling memakan pulsa paling besar. Onno juga membagi pengalamannya. Untuk akses email dan akses web. Untuk email dia menggunakan account POP e-mail di ISP yang dibayar Rp.30.000 per bulan merupakan bagian dari jasa ISP kepada pelanggannya. Kelihatannya mahal karena kita bayar Rp.30.000. Tapi dengan membayar tadi Onno bisa menggunakan email client software seperti Outlook Express, Eudora dll. untuk mengatur semua mailnya. Onno dapat mengetik atau mempersiapkan semua berita secara offline.

Demikian juga pada saat Anda membaca mail, karena Outlook Express & Eudora memungkinkan untuk menyimpan semua mail Anda di harddisk lokal maka Anda dapat membaca mail secara offline tanpa perlu takut pulsa telepon.

Dengan cara sederhana ini maka sangat menghemat pulsa Telkom yang sangat mahal. Pulsa telkom hanya digunakan pada saat proses pengiriman dan pengambilan mail saja. Caranya pun sederhana sebetulnya setelah semua berita siap untuk dikirim, maka kita cukup menekan tombol send & receive di Outlook Express untuk mengirimkan dan mengambil semua mail dari ISP. Outlook Express bisa di set agar hubungan ke ISP langsung secara automatis putus (auto-disconnect) sesaat setelah semua mail sudah dikirim dan mail dari POP account di ISP sudah di ambil.

Bayangkan untuk mengirim atau menerima sekitar 200-600 mail Onno hanya membutuhkan waktu sambungan ke ISP melalui telkom sekitar 5 menit saja. Biaya per menit ke internet sekitar Rp. 150 / menit (Rp.75 untuk Telkom & Rp. 75 untuk ISP-nya). Artinya per hari Onno mengeluarkan biaya Rp. 1000-2000 untuk e-mail saja, sebuah biaya yang murah untuk mengirim 600-an mail / hari.

Berbeda dengan jika Anda menggunakan e-mail seperti hotmail.com, yahoo.com, usa.net yang semua-nya berbasis web. Untuk free email yang berbasis web tersebut maka mau tidak mau Anda harus menyalakan telepon dan menghubungkan diri ke internet pada saat membaca mail, menulis jawaban, menulis mail, mengirim mail. Onno yakin dalam waktu 5 menit paling banter Anda hanya bisa mengirim atau membaca sekitar 2-5 surat saja. Tentunya hal ini akan berdampak sangat buruk pada tagihan pulsa Telkom maupun ISP Anda.

Yang lain yang sering membuat orang pusing adalah kalau anda hanya punya satu komputer yang dipakai bersama-sama bagaimana cara-nya supaya mail setiap orang berbeda dan tidak dibaca oleh yang lain? Di Windows98 sudah di sediakan fasilitas untuk multi-user baik windows- nya yang multi-user maupun di microsoft outlook express-nya. Fasilitas tersebut memungkinkan satu buah PC digunakan beramai-ramai oleh banyak orang tanpa bisa satu orang membaca mail orang yang lain karena di proteksi menggunakan password.

Bagaimana dengan akses web? Langsung di klik menuju URL yang dituju. Onno tidak akan membaca secara detail informasi yang di peroleh pada saat browsing tapi Onno akan mengirimkannya melalui email ke accountnya di ISP semua halaman informasi yang diperoleh pada saat browsing. Dengan cara itu dia bisa membaca semua informasi setelah semua masuk ke laptop via e-mail dan tidak perlu takut argo berjalan.

Jika Anda menggunakan PC atau laptop sendiri untuk browsing fasilitas sinkronisasi di internet explorer akan sangat membantu untuk menyedot informasi dari web untuk nantinya dibaca secara offline. Hal ini sering Onno lakukan dengan laptopnya. Jadi fasilitas sinkronisasi akan menyedot semua URL yang Onno spesifikasikan dan dapat Onno set supaya nantinya dapat dibaca secara offline. Dengan cara itu sangat effisien untuk menghemat pulsa juga.

Nah, begitulah strategi menghemat pulsa dari Onno. Anda ingin mencobanya? Mudah-mudahan hal yang sama dapat berlaku untuk Anda. Selamat berhemat ria!
SMS GRATIS KHUSUS BUAT PENGGUNA IM3
Chapter 1

Kalo ada yang gratis kenapa harus bayar. Begitulah kira-kira ungkapan yang sering didengungkan para GATAN alias GRATISAN MANIA. Kenapa harus IM3 apa yang laen ga bisa..?jawabnya singkat “karena IM3 rajanya SMS”. Karena itu bagi kalian yang belum menggunakan IM3 ayo cepet-cepet ganti pake IM3 (bukannya Promosi neeh, tapi suer emank gaul banget pake’ IM3). Daripada lo semua pusing dengerin ocehan gua yg makin ga karuan, mending langsung aza kita mulai pelajarannya.Pertama-tama siapkan bahan-bahan sbg berikut (kyk mo masak aza nee) :
1.kartu perdana im3 yang masih aktif (tidak dalam masa tenggang)
2.pulsa minimal Rp.5000
3.handphone aktif
4.koneksi internet
Kalau anda menggunakan nomor baru register dulu ke 4444 karena ini syarat mutlak untuk bisa menggunakan kartu GSM/CDMA di indonesia. Langkah selanjutnya silahkan register dulu di www.m3-access.com


lalu lakukan registrasi dengan meng klik pada halaman m3-access.com seperti pada gambar ini :

Masukkan data diri anda dengan benar sesuai dengan identitas anda kemudian isilah kolom bagian bawah dengan kode verifikasi yang muncul(seperti gambar di bawah) dan pada pilihan info isilah sesuai keinginan anda tapi sebaiknya pilih YA agar anda selalu mendapat info terbaru mengenai IM3, (lihat gambar):

setelah anda tekan submit tunggu beberapa saat anda akan menerima sms verifikasi dalam 1×24 jam, biasanya sih langsung dapat sms kok. Setelah anda mendapatkan sms verifikasi langkah selanjutnya aktifkan acount anda pada side bar sebelah kiri pada halaman situs tersebut (lihat gambar).


setelah aktif maka anda siap untuk mengirim sms gratis tanpa harus memotong pulsa HP anda. lihat gambar :


awali nomer tujuan anda dengan nomer 62xxxxxxxxxx kemudian nomor yang dituju tanpa menggunakan nol sebagai awalan (lihat gambar).


Mengapa saya merekomendasikan www.m3-access.com? karena IM3 sms banget dan juga masih baik hati dengan memberikan layanan sms gratis tis tis .

Tapi tahukah anda bahwa sms gratis ini bukan hanya untuk ke sesama indosat saja tetapi bisa sampai ke semua operator lho baik GSM atau CDMA bahkan saya pernah sms ke luar negeri yang tarifnya Rp.500/sms dan sampai. lumayan kan ngirit pulsa. untuk sms ke luar negeri silahkan masukkan kode negara(misal Hongkong 852xxxxxxxxxx). hanya syarat yang harus di patuhi adalah pulsa im3 reguler anda harus cukup(misal Rp.5000) dan si penerima sms akan tau siapa pengirimnya karena nomor yang masuk ke HP dia adalah no HP anda. semoga tips ini bermanfaat bagi anda.
Pesan gue gunakanlah layanan ini seperlunya jangan berlebihan apalagi kalo buat sms bombing sebaiknya jangan dech, karena selain merugikan orang laen hal itu juga bisa merugikan kita sendiri. Lho ko’ bisa…?klo sampai layanan ini ditutup oleh IM3 karena sering di gunakan sbg sms bombing maka kita sendirilah yang rugi.
Mulailah untuk belajar bertanggung jawab untuk menjaga fasilitas umum, kalau bukan dari diri kita sendiri siapa lagi. Kita tidak bisa mununtut orang lain bertanggung jawab kalau kita sendiri tidak bertanggung jawab.
Wassalam.

Salam hangat dari penulis,


tanWeeRuLz.

SETTING GPRS dan MMS

¤ IM3 GPRS ¤

Name : M3-GPRS
APN : www.indosat-m3.net
User name : gprs
Password : im3
IP Address : 10.19.19.19
Proxy : 9201 atau 8081
Homepage : wap.m3-access.com
Seting OTA : ketik GPRS_spasi_merek HP_spasi_type HP
Kirim ke 3939

¤ IM3 MMS ¤

Name : M3-MMS
APN : mms.indosat-m3.net
User name : mms
Password : im3
IP Address : 10.19.19.19
Proxy : 9201 atau 8081
Homepage : mmsc.m3-access.com
Seting OTA : ketik MMS
_spasi_merek HP_spasi_type HP
Kirim ke 3939

¤ IM3 CSD ¤

Name : IM3 CSD
Dial Number : 366
Dial Type : ISDN
Password : im3
IP Address : 10.19.19.19
Proxy : 9201 atau 8081
Homepage : wap.m3-access.com

¤ IM3 E-Mail ¤

Connect Using : M3-GPRS
E-Mail : @indosat-m3.net
User name : @indosat-m3.net
Password :
Outgoing Server : smtp.indosat-m3.net
Incoming Server : imap.indosat-m3.net
Mailbox Type : IMAP4
Untuk keterangan lebih lanjut silakan kunjungi situs m3-access.com

¤ MENTARI GPRS ¤

Name : ISAT GPRS
APN : indosatgprs
User name : indosat
Password : indosat
IP Address : 10.19.19.19
Proxy : 9201 atau 8081
Homepage : wap.klub-mentari.com
Seting OTA : ketik GPRS_spasi_merek HP_spasi_type HP
Kirim ke 3000

¤ MENTARI MMS ¤

Name : ISAT MMS
APN : indosatmms
User name : indosat
Password : indosat
IP Address : 10.19.19.19
Proxy : 8080
Homepage : mmsc.indosat.com
Seting OTA : ketik MMS
_spasi_merek HP_spasi_type HP
Kirim ke 3000
Untuk keterangan lebih lanjut silakan kunjungi situs klu-mentari.com.

¤ MATRIX GPRS ¤

Name : SAT-C GPRS
APN : satelindogprs.com
User name :
Password :
IP Address : 202.152.162.250
Proxy :
Homepage : wap.matrix-centro.com
Mengaktifkan: Ketik ACT_spasi_GPRS kirim ke 888

¤ MATRIX MMS ¤

Name : SAT-C MMS
APN : mms.satelindogprs.com
User name : mms
Password : mms
IP Address : 202.152.162.88
Proxy : 9201
Homepage : mmsc.satelindogprs.com
Mengaktifkan: Ketik ACT
_spasi_MMS kirim ke 888
Untuk keterangan lebih lanjut silakan kunjungi situs matrix-centro.com

¤ TELKOMSEL GPRS ¤

Name : T-SEL GPRS
APN : telkomsel
User name : wap
Password : wap123
IP Address : 10.1.89.130
Proxy : 9201 atau 8000
Homepage : wap.telkomsel.com
Seting OTA : ketik s_spasi_merek HP_spasi_type HP
Kirim ke 5432
Mengaktifkan : ketik GPRS
_spasi_16 digit angka di belakang
kartu
Kirim ke 6616

¤ TELKOMSEL MMS ¤

Name : T-SEL MMS
APN : mms
User name : mms
Password :
IP Address : 10.1.89.150
Proxy : 9201 atau 8081
Homepage : mms.telkomsel.com
Seting OTA : ketik s
_spasi_merek HP_spasi_type HP
Kirim ke 5432
Mengaktifkan : ketik GPRS
_spasi_16 digit angka di belakang
kartu
Kirim ke 6616
Untuk keterangan lebih lanjut silakan kunjungi situs telkomsel.com

¤ XL GPRS ¤

Name : XL-GPRS
APN : www.xlgprs.net
User name : xlgprs
Password : proxl
IP Address : 202.152.240.50
Proxy : 8080
Homepage : wap.lifeinhand.com

¤ XL MMS ¤

Name : XL-MMS
APN : www.xlmms.net
User name : xlgprs
Password : proxl
IP Address : 202.152.240.50
Proxy : 8080
Homepage : mmc.xl.net.id/servlets/mms
Untuk keterangan lebih lanjut silakan kunjungi situs www.xl.co.id

¤ 3 GPRS ¤

Name : 3 GPRS
APN : 3gprs
User name : 3gprs
Password : 3gprs
IP Address : 10.4.0.10
Proxy : 9201
Homepage : wap.three.co.id

¤ 3 MMS ¤

Name : 3 MMS
APN : 3mms
User name : 3mms
Password : 3mms
IP Address : 10.4.0.10
Proxy : 9201
Homepage : mms.three.co.id3-ac
Untuk keterangan lebih lanjut silakan kunjungi situs www.three.co.id

Tarif Selular di Indonesia Dianggap Cukup Murah


Jakarta - Dalam peluncuran Simpati PeDe di Hotel Mulia, Senin (10/12/2007), Yuen Kuan Moon, Direktur Niaga Telkomsel, mengatakan tarif selular di Indonesia sudah cukup murah jika dibanding Singapura. Namun, ia menambahkan, bukan murah dalam arti sebenarnya.

Di Indonesia, ujar Yuen, ada faktor yang mempengaruhi tarif. Salah satunya adalah unsur geografis. "Kalau di Singapura hanya satu pulau, kalau di Indonesia ada 17 ribu pulau yang harus dihubungkan satu sama lain. Itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit," ujar Yuen.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Telkomsel, Kiskenda Suriahardja, mengatakan pihaknya masih mempertanyakan kewajiban menurunkan tarif minimal 15 persen yang ditetapkan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Telkomsel, ujar Kiskenda, telah mematuhi aturan pemerintah.

"Soal tudingan kerugian konsumen itu tidak beralasan. Karena perlu dilihat juga keuntungan yang diterima pelanggan," ujar Kiskenda.

Telkomsel, lanjut Kiskenda, akan mengalokasikan dana yang didapat dari tarif yang disebut mahal itu untuk pembangunan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia. "Saat ini teledensitas komunikasi hanya 36 persen, masih banyak yang perlu dilayani," ia menambahkan.

Delapan Operator Diduga Terlibat Kartel SMS


Jakarta - Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) sedang menyelidiki dugaan kartel tarif SMS pada delapan operator selular di Indonesia. Bos-bos operator pun dipanggil. Pada Rabu (12/12/2007), KPPU memanggil Direktur Utama Excelcomindo Pratama (XL) Hasnul Suhaimi untuk dimintai keterangan soal dugaan adanya kartel SMS. Saat dikonfirmasi melalui telepon genggamnya, Hasnul mengaku belum bisa memberikan keterangan.

KPPU memanggil delapan operator berdasarkan laporan adanya dugaan praktek kartel tarif pesan singkat (SMS). Selain XL, operator yang dipanggil adalah Indosat, Telkomsel, Hutchison, Bakrie Telecom, Mobile-8, Smart Telecom, dan Telkom. Beberapa pimpinan operator telekomunikasi seluler dilaporkan sudah menemui KPPU.


Menanggapi hal tersebut, anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Kamilov Sagala mengakui tarif SMS di Indonesia masih sangat mahal jika dibandingkan formula dasar tarif yang dirumuskan BRTI. "Tarif SMS saat ini memang masih keterlaluan. Lebih mahal tiga kali lipat dari formula yang kami tetapkan," ujarnya saat dihubungi detikINET, Rabu (12/12/2007).

Setelah didesak, Kamilov akhirnya mengakui bahwa formulasi tarif SMS dari BRTI itu sebenarnya tidak lebih dari Rp 100. Tepatnya, sekitar Rp 73 - Rp 75 per SMS.

Saat ini, standar tarif SMS (di luar tarif promosi) untuk pascabayar adalah Rp 250 dan prabayar Rp 350. Biaya untuk SMS itu sepenuhnya masuk ke operator pengirim (sender keep all).

Dugaan kartel yang dilaporkan ke KPPU mengungkapkan kecurigaan akan adanya kesepakatan antar operator untuk bersama-sama menetapkan tarif SMS pada angka tertentu.

Kamilov menolak untuk berkomentar apakah BRTI akan membuat plafon batas atas terhadap formulasi tarif SMS. Menurutnya, tarif SMS disesuaikan oleh masing-masing operator. ( wsh / wsh )

Diambil dari www.detikinet.com

Tips Mudik Aman dan Nyaman

Lebaran sudah diambang pintu, saatnya merayakan kemenangan setelah sebulan lamanya berpuasa menahan segala lapar dan nafsu, saatnya saling memaafkan atas segala dosa yang diperbuat dan saatnya mudik ke kampung halaman.

Mudik atau pulang kampung bukan suatu beban berat bagi yang kebetulan kampung halamannya bisa ditempuh dalam hitungan jam, namun bagi yang harus menempuh perjalanan seharian atau bahkan berhari-hari apalagi dengan membawa kendaraan pribadi, acara mudik harus dipersiapkan benar-benar, terutama kondisi fisik. Hal ini untuk menciptakan rasa aman dan nyaman selama perjalanan.

Yang tak kalah pentingnya adalah kondisi kendaraan, pastikan jauh-jauh hari bahwa kendaraan yang akan dipakai sudah siap 'tempur'. Berikut tips mudik bagi anda yang hendak bersilahturahmi kepada keluarga di kampung halaman :

Meninggalkan Milis

Bagi anda yang aktif bergabung dengan sebuah milis, pastikan anda merubah message delivery sehingga anda tidak mengalami kelebihan kapasitas yang berpotensi membuat anda kena bounching.

Untuk perubahan ini mudah saja, anda tinggal mengirim email kepada moderator untuk permohonan berhenti dari milis atau menerima diggest (rangkuman email perhari).

Kondisi Tubuh

Pastikan bahwa sebelum mudik anda dan keluarga berada dalam kondisi yang fit. Terutama bagi driver

Kondisi Mobil dan Perlengkapan Mobil

Sebelum dipakai 'bertempur' alias mudik, periksakan kondisi kendaraan anda di bengkel langganan ((tune-up komplit, rem, ban, wiper, radiator, tali kipas/AC, aki, dll). Dan jangan lupa membawa perlengkapan alat-alat mobil (tools kit), dongkrak, tali derek, ban serep, kotak P3K, segitiga pengaman, kunci roda palang, senter,dll.

Bawa Air Mentah

Bawalah air mentah di dalam jerigen 5 liter atau jika tidak ada jerigen bisa memakai bekas botol air mineral besar (1 literan) untuk mengisi radiator bila kurang. Ar juga bisa untuk mencuci tangan bila selesai ganti ban kalau bocor atau kempes. Tak ada salahnya ada juga membawa sabun. Air ini juga berguna bila bawa anak kecil/bayi tiba-tiba 'pup' saat kita tengah berada di daerah yang sulit air (misalnya: sawah, hutan)

Bekal Makanan

Pastikan anda membawa bekal makanan yang praktis dan bisa dimakan sambil terus berkendara. Saat mudik disarankan untuk tidak asal makan di restoran/rumah makan tempat pemberhentian Bus Antar Kota karena di saat-saat seperti itu dikhawatirkan cara masak dan mencuci piringnya kurang bersih karena pengunjung sangat padat dan banyak yang harus dilayani.

Lebih terjamin bila anda membawa makanan sendiri. Tapi kalau bekal habis anda bisa masuk ke dalam kota dimana anda lewat untuk mencari restoran fast food fried chiken. Yang pasti anak-anak suka dan lebih baik kebersihannya.

Packing Barang/ Muatan Dengan Benar

Urutkan barang/ muatan berdasarkan tingkat kebutuhan. Yang memiliki kemungkinan sangat besar dibutuhkan saat dalam perjalanan diletakkan di tempat atau posisi yang paling mudah dikeluarkan. Supaya tidak perlu bongkar muat tiap kali butuh sesuatu.

Kebelet Pipis

Ini adalah masalah rutin para pemudik. Untuk anak-anak dan laki-laki sih hal ini bukan masalah besar, tinggal berhenti saja di pinggir jalan dan beres deh. Tapi untuk para wanita ini bukanlah hal yang mudah. Untuk mengatasinya carilah pompa bensin yang besar pasti ada toiletnya yang cukup bersih, bila kotor, cari lagi berjalan beberapa kilometer. Atau anda bisa juga mencari Wartel, Kantor Polisi, Pusat Pertokoan, Losmen, Hotel, Masjid, dll.

Raja Setan Jalanan

Yang harus diingat adalah jika kita berkendara dengan mobil pribadi di Jalur Pantura adalah siap mengalah dengan Bus Antar Kota/Propinsi, mereka ini "Raja Setan Jalanan Pantura". Jangan coba-coba adu balap meski kita ada di jalur yang benar. Bila dari arah berlawanan tiba-tiba ada Bus yang melancangi truk gandeng yang berjalan lamban, Anda harus siap mengurangi kecepatan dan minggir ke kiri.

Bahkan bila perlu turun/keluar dari jalan aspal. Jangan ambil resiko, lebih baik mengalah. Bukankah Anda dan keluarga ingin tiba di kampung halaman dengan selamat?

Si Keong dan Si Kura-Kura

Lain bus lain lagi truk gandeng maupun truk engkel. Kalau truk-truk ini dikenalnya sebagai si Keong atau si Kura-Kura karena begitu lamban jalannya. Bagi mereka yang sering lewat Pantura pasti tahu betapa menjengkelkannya kendaran ini. Sudah jalnnya lambat, mereka 'ngotot' berjalan di jalur kanan pula.

Jika bertemu dengan tru jenis ini kita harus ekstra sabar dan hati-hati, cobalah menyalip dari sebelah kiri. Minta co-driver melihat ke depan apakah lajur depan sebelah kiri kosong dan aman untuk menyalip atau tidak? Yang perlu diperhatikan adalah apakah di kiri depan ada motor,becak, sepeda, mobil mogok/parkir, lobang, jembatan sempit, dll.

Bila aman tak ada halangan menyaliplah "dari jalur kiri" dengan tetap waspada, apalagi kalau yang disalip itu konvoi truk yang panjang.

Bawa Peta Jalur Mudik

Jangan lupa membawa peta jalur mudik, karena ini sangat penting dan berguna. Hendaknya pilihlah peta yang memuat jalur-jalur alternatif secara detail, ini penting sekali apabila terjadi kemacetan di suatu titik. Dan jangan lupa peta tersebut dilengkapi dengan nomor-nomor telepon penting, info tol sepanjang Pulau Jawa, dll.

Bawa HP & Chargernya

Sebaiknya sebelum berangkat charge HP anda sampai penuh. Untuk daerah/area tertentu yang Anda lewati akan terjadi "blank spot" untuk kartu tertentu, lebih baik jika salah satu anggota keluarga punya HP dengan kartu yang berbeda. Jadi bila terjadi blankspot masih bisa pakai HP satunya lagi.

Memonitor Milis

Bila ada kesempatan, sekali-kali monitorlah milis yang anda ikuti, siapa tahu ada teman yang sedang on-line. Bagi yang tidak punya laptop, tidak perlu berkecil hati, anda tinggal mencari warnet saja bukan?

Obat-Obatan

Bawa obat-obatan yang biasa digunakan, jangan lupa itu! Terutama untuk anak-anak.

Waktu Berangkat

Jika anda berangkat pagi jam 06.00: Bisa lihat pemandangan, restoran dan bengkel mobil pasti buka, bila mobil tua dan AC kurang bagus anak- anak kasihan akan tersiksa karena panas apalagi kalau macet, sepanjang jalan yang dilewati kita akan ketemu pasar tradisional di kota kecamatan/kabupaten yang pasti macet, banyak orang menyeberang, becak, sepeda, ojek, dll, ketemu dengan "Panitia" Pembangunan Masjid yang minta sumbangan.

Harap hati-hati dengan drum yang ditaruh di tengah-tengah jalan, jangan sampai ngebut melewati mereka. Bagi anda yang berkacamata minus sebaiknya jalan pagi saja.

Berangkat sore/malam jam 17.00: Tidak bisa lihat pemandangan, hanya restoran dan bengkel 24 jam saja yang buka, anak-anak bisa tidur tidak ribut, tidak panas baik di dalam mobil maupun di luar, tidak ada pasar tradisional, tidak ada Panitia Pembangunan Masjid. Bila kita mau menyalip di tikungan akan kelihatan dari sinar lampu mobil dari arah berlawanan. Hanya saja kita harus ekstra hati-hati dan jangan sampai mengantuk.

Berikan no. HP dan telepon di kampung halaman ke tetangga atau RT

Ini dimaksutkan agar Anda bisa dihubungi kalau terjadi sesuatu di rumah Anda.

Arus Balik dan Pulang Balik

Harap simpan tenaga dan tetap jaga kesehatan untuk siap pulang balik setelah mudik. Jangan pulang balik di pas mepet sekali besoknya harus sudah masuk kantor dan anak-anak masuk sekolah, pasti kelelahan kan? Ada baiknya ambil waktu sehari istirahat sebelum besoknya melakukan aktifitas rutin.

Uang Tunai

Bawa uang tunai secukupnya, tak perlu bawa banyak-banyak, toh ATM banyak sekali dijumpai di daerah.

Bawa Kaset/CD

Bawalah kaset/CD yang menjadi favorit Anda, agar suasana tidak jenuh, bosan dan sekaligus membawa suasana gembira.

Stiker

Tempelkan stiker favorit Anda atau tanda pengenal komunitas tertentu di kaca belakang mobil /spatboard kendaraan Anda. Siapa tahu nanti di perjalanan Anda berjumpa dengan teman baru?

Catatlah nomor telepon penting

Dengan mengantoingi nomor telpon polisi, Jasa Marga, Info jalan tol akan sangat membantu saat anda mengalami masalah dalam perjalanan.

Mintalah lembar informasi kepada bengkel ATPM

Pastikan anda meminta yang sesuai merk kendaraan, anda bisa juga meminta pada Jasa Marga, biasanya mereka membuat semacam leaflet yang dibagikan secara gratis yang berisi info mudik seperti daftar posko bengkel jaga beserta nomor teleponnya, rute mudik rawan macet, restoran, SPBU, ATM di sepanjang rute perjalanan mudik.

Frekwensi radio

Ini akan membantu memberikan informasi mudik di sepanjang rute perjalanan Anda. Anda bisa juga mendengarkan radio untuk mendapatkan info yang Anda inginkan.

Setelah semua hal diatas anda siapkan dengan cermat, jangan lupa untuk selalu BERDOA sebelum memulai perjalanan. Selamat mudik, semoga selamat sampai tempat tujuan. (mls/tutut)

Tips Mudik Tanpa Kerepotan


KapanLagi.com - Lebaran sebentar lagi !!! Namanya Lebaran biasanya jadi kesempatan untuk bersilaturahmi, saling mengunjungi antar tetangga ataupun saudara. Nah...bagi yang tinggal diperantauan biasanya ada tradisi mengunjungi saudara di kampung halaman alias mudik. Untuk menghindari kerepotan bagi Anda yang memutuskan mudik, berikut kami sampaikan beberapa tips:

Transportasi

Untuk mudik tentunya Anda membutuhkan trasportasi. Dalam hal ini yang pertama harus Anda persiapakan adalah memutuskan apakah akan melakukan perjalanan dengan kedaraan pribadi atau kendaraan umum.

Bagi Anda yang memilih melakukan perjalanan dengan kendaraan umum sebaiknya segera memesan tiket jauh-jauh hari, setidaknya dua minggu sebelum hari H, kerena biasanya begitu mendekati Lebaran harga tiket melambung dua kali lipat, apalagi kalau sudah berurusan dengan calo.

Sedang bagi Anda yang memutuskan melakukan perjalanan dengan kendaraan pribadi, lebih bijaksana jika melakukan persiapan total dengan kendaraan yang akan digunakan bersama keluarga. Periksa kondisi keseluruhan kendaraan, mulai dari mesin, rem, ban, kopling, lampu, busi dan yang lainnya, apakah masih layak untuk digunakan untuk melakukan perjalanan jauh.

Siapkan Anggaran

Yang namanya mudik, biasanya membutuhkan dana lebih dari perkiraan. Nah...alangkah lebih baiknya jika Anda mempersiapkan keuangan. Jangan mentang-mentang dapat THR lantas membelanjakan semuanya, belilah yang betul-betul Anda butuhkan, ingat.... karena Lebaran kali ini jatuh di awal bulan, setelah lebaran masih harus menunggu satu bulan lagi terima gaji. Sebaiknya buat daftar kebutuhan Anda, untuk transportasi pulang-pergi, kebutuhan di kampung halaman dan hal-hal lain yang tak terduga, dan pikirkan juga anggaran untuk sebulan ke depan.

Siapkan Bekal Sendiri

Melakukan perjalanan jauh (kecuali dengan pesawat) pastinya Anda juga membutuhkan makan. Untuk penghematan sebaiknya bawa bekal sendiri. Buah-buahan bisa jadi bekal yang bagus untuk perjalanan panjang, selain serat yang mengenyangkan, buah juga menyediakan energi dan sejumlah gizi antioksidan sebagai penangkal kelelahan. Pilihlah buah yang praktis dan tidak repot memakannya.

Anda bisa juga membawa Snack, bahan-bahan sandwich atau burger atau roti tawar dan sejenisnya. Kalau dalam perjalanan Anda terjebak macet, dengan membawa bekal sendiri tak perlu repot mencari warung, selain tentunya juga hemat. Jangan lupa bawa serta obat-obatan sendiri, untuk persiapan di perjalanan.

Siapkan Uang Tunai Secukupnya

Walau Anda memiliki ATM, tapi uang tunai tetap dibutuhkan, tapi sebaiknya bawa uang tunai secukupnya. Untuk menghindari copet, simpan di tempat yang berbeda. (erl)

Trans 7 Tetap Jajaki Siarkan EPL

Sumber: detiksport, 27 September 2007
Jakarta - Siaran langsung Liga Inggris kini tak lagi dimonopoli Astro. Setelah Lativi, Trans 7 menyatakan tetap menjajaki kemungkinan menyiarkan pula pertandingan Liga Inggris.

Demikian dikatakan Produser Eksekutif Trans 7, Andi Chairil, menanggapi telah terbukanya kembali kesempatan bagi TV-TV lokal untuk menayangkan secara live pertandingan Liga Inggris.

Seperti diberitakan sebelumnya, Lativi mulai pekan ini akan menyiarkan secara langsung pula pertandingan Premier League, setelah sebelumnya hak tersebut seperti dimonopoli TV berbayar, Astro.

"Kalau dilihat dari image, kita memang masih tetap kuat dengan siaran Liga Inggris karena memang banyak orang masih menanyakan kepada kami mengenai hal itu," kata Andi Chairil saat dihubungi detiksport, Kamis (27/9/2007).

Ditekankan dia, Trans 7 tetap memberi perhatian besar pada siaran olahraga khususnya sepakbola. Itu sebabnya mulai musim ini mereka menyiarkan Liga Italia Seri A.

Namun saat ditanya kemungkinan ikut meramaikan siaran langsung Liga Inggris, ia menjawab, "Kita tetap mencoba mengajukan diri untuk mendapatkan EPL dengan syarat yang kita ajukan. Saat ini dalam taraf saling menjajaki."
(key/a2s)

Lativi Siarkan Langsung Liga Utama Inggris 2007/2008

Jakarta (ANTARA News) - Masyarakat Indonesia yang tidak bisa berlangganan televisi berbayar Astro, kini boleh bergembira karena stasiun televisi terestrial swasta Indonesia, Lativi, memperoleh hak siar untuk menayangkan Liga Utama Inggris (EPL) musim 2007/2008 di Indonesia.

"Kami mendapat kepastian memperoleh hak siar itu tadi malam (Rabu, 26/9) dari pemilik hak siar ESS (ESPN Star Sports)," kata Direktur Utama Lativi, Erick Thohir, di Jakarta, Kamis.

Erick menjelaskan proses penawaran untuk memperoleh hak siar pertandingan liga terbaik di Indonesia tersebut dilakukan sejak pekan lalu.

"Setahu saya ada enam televisi Indonesia yang ikut menawar untuk mendapatkan hak siar tersebut dan semuanya memberi penawaran dalam amplop tertutup. Jadi saya tidak bisa buka berapa besar nilai penawaran yang diajukan Lativi," paparnya.

"Tetapi karena mereka memilih kami, mungkin harga yang kami tawarkan lebih bagus dibandingkan penawar lainnya," tambahnya.

Selain harga, menurut Erick pihak ESS juga meminta setiap penawar mempresentasikan program apa saja yang akan mereka lakukan guna menunjang siaran langsung sepak bola EPL.

"Lativi memegang hak siar hingga akhir musim 2007/08 dan memiliki opsi pertama untuk memperpanjang hingga dua musim berikutnya," jelas Erick.

"Sekarang kami lagi pontang-panting mencari sponsor nih," tambahnya.

Mulai Sabtu (29/9) Lativi akan menayangkan dua siaran langsung pertandingan EPL setiap akhir pekannya.

"Total akan ada 56 siaran langsung hingga akhir musim, belum lagi siaran tunda yang kami beli dari TV milik klub seperti Arsenal dan Newcastle," katanya.

Sebelumnya sempat terjadi kontroversi ketika stasiun televisi berbayar Astro mendapat hak siar EPL di Indonesia.

Banyak pecinta sepak bola yang kecewa dan protes, terutama karena mereka tidak bisa menyaksikan aksi Cristiano Ronaldo, Steven Gerrard, Michael Owen dkk. secara gratis seperti tahun-tahun sebelumnya. Selain itu, bagi mereka yang sanggup membayar, siaran Astro belum menjangkau seluruh Indonesia.

Kementerian Komunikasi dan Informatika dan DPR RI bahkan sampai turun tangan agar televisi berbayar yang berbasis di Malaysia itu mau "membagi" hak siarnya.

Kini ada Lativi yang bisa memenuhi keinginan masyarakat untuk menyaksikan EPL secara gratis dan pihak Astro menyatakan hal itu membuktikan bahwa mereka tidak pernah menutup proses tender perolehan hak siar EPL.

"Kami tidak bekerjasama dengan Lativi karena Astro bukan pemilik hak siar. Mereka negosiasi langsung dengan ESS," kata Vice President Corporate Affairs Astro Indonesia Halim Mahfudz saat dihubungi di Jakarta.(*)


Copyright © 2007 ANTARA

Kompetisi Liga Indonesia Kembali Tanpa Degradasi

Jakarta (ANTARA News) - Semua klub divisi utama dan divisi satu Liga Indonesia 2007 yang berada di zona merah klasemen wilayah masing-masing kini boleh bergembira, karena Komite Eksekutif (Exco) PSSI telah menetapkan tidak akan ada degradasi.

"Pada musim depan Liga Super akan diikuti 18 tim, divisi utama 34 tim, divisi satu 48 tim, dan divisi dua 84 tim. Itu sudah ditetapkan oleh Exco," kata Ketua Bidang Media yang juga anggota Exco PSSI, Mafirion, di Jakarta, Jumat.

Keputusan tersebut dituangkan dalam SKEP 12/NH/IX/2007 bertanggal 23 September 2007 dan ditandatangani Ketua Umum PSSI Nurdin Halid.

Dalam Manual Liga Indonesia 2007 sesungguhnya disebutkan bahwa sembilan klub teratas di dua wilayah divisi utama akan lolos ke Liga Super --kompetisi tertinggi di Indonesia yang akan digulirkan mulai tahun depan--, sementara akan ada delapan klub yang terdegradasi ke divisi satu sementara sisanya bertahan di divisi utama.

Jumlah klub di divisi utama untuk musim 2008, menurut Manual Liga 2007, adalah 18 klub. Dengan demikian, berdasarkan skep tersebut, akan ada penambahan 16 klub dari divisi satu yang naik ke divisi utama musim depan.

Selain itu, otomatis musim ini juga tidak ada klub divisi satu yang terdegradasi ke divisi dua.

Namun demikian, Mafirion menolak jika disebutkan tidak ada degradasi pada kompetisi musim ini.

"Dengan adanya Liga Super musim depan, maka divisi utama yang sekarang ini statusnya menurun. Jadi mereka yang tidak naik ke Liga Super, maka otomatis kelasnya sudah di bawah tim yang lolos. Tetap ada degradasi kan?," katanya.

"Kalau tim yang ada di divisi utama sekarang ini kita turunkan ke divisi satu musim depan maka itu berarti mereka turun dua tingkat dong," ujarnya.

Ia menjelaskan, dengan demikian divisi utama musim depan tetap akan menggunakan sistem dua wilayah.

Ia juga menolak jika Exco dikatakan melanggar Manual Liga 2007.

"Bacalah Manual Liga itu seluruhnya. Pada pasal 7 disebutkan bahwa liga akan berjalan seperti yang telah ditetapkan kecuali ada perubahan yang dilakukan," katanya.

Saat ditanya pers, apakah sistem yang disetujui Exco itu akan kembali
berubah pada musim berikutnya, Mafirion menegaskan bahwa mereka berusaha menetapkan standar yang lebih baik pada kompetisi Indonesia.

"Kami sudah menetapkan bahwa pada musim 2009 anggota divisi utama berkurang menjadi 30 klub. Selain itu, bila ada anggota Liga Super yang belum juga bisa memenuhi standar maka kemungkinan ia akan didegradasi juga sehingga mungkin jumlah anggota Liga Super akan berkurang dari 18 klub pada musim 2009," ujarnya.

Mafirion juga membantah kabar bahwa penambahan jumlah anggota divisi utama tersebut adalah upaya untuk "memuaskan" semua pihak sehingga posisi Nurdin Halid, yang kini tengah menjalani vonis dua tahun penjara untuk kasus distribusi minyak goreng ilegal, sebagai ketua umum tidak diotak-atik.

"Terlalu picik jika kompetisi sepak bola Indonesia dikorbankan hanya untuk masalah seperti itu. Sekali lagi, kami hanya ingin menetapkan standar yang lebih baik untuk sepak bola Indonesia," ujar Mafirion menambahkan. (*)


Copyright © 2007 ANTARA

Ebook Seputar Ramadhan

Beberapa ebook yang insyaAllah bermanfaat seputar Ramadhan :

Bekal-bekal Ramadhan (PDF)
oleh : Muhammad bin Jamil Zainu

Ebook ini berisi bekal-bekal dan panduan singkat di dalam menghadapi bulan Ramadhan, mulai dari Keutamaan Bulan Ramadhan, Puasa, Etika dan Sunnah-sunnah dalam Berpuasa, Hal-hal yang membatalkan dan yang diperbolehkan ketika Puasa, Sholat Tarawih, I’tikaf, Zakat Fithri, Sholat Ied, Kesalahan-kesalahan didalamnya dan lainnya. Semoga bisa menambah persiapan kita mengisi bulan Ramadhan ini, serta semoga Allah membalas dengan kebaikan yang lebih banyak kepada Penulis dan penerjemah kitab ini.

Download ( 623 KB )

Hadits-Hadits Dha’if Seputar Ramadhan (PDF)
oleh : Ustadz Arif Syarifuddin, Lc

Bulan ramadhan merupakan bulan yang dltunggu kedatangannya oleh seluruh kaum muslimin. Berbagal macam keglatan diadakan dalam rangka memanfaatkan bulan Ini. Diantara kegiatan yang sering diadakan adalah ceramah atau ta’llm. Kegiatan Inl sangat membantu kaum muslimin dalam mengenal agama Islam ini.

Namun sangat disayangkan, banyak diantara para da’i ini yang menyampalkan hadits-hadits dha’if (derajatnya lemah), bahkan hadits maudhu’ (palsu).

Padahal mestlnya kita berhati-hati dalam menyampaikan sebuah hadits. Kita harus tahu dulu derajat hadits tersebut Jika kita sudah mengetahui, bahwa hadits tersebut maudhu’, namun kfta tetap menyampaikannya, berartl terkena ancaman berdusta atas nama Rasulullah yang balasannya adalah neraka. Wal iyadzu billah.

Ebook ini menjelaskan beberapa hadits dhaif dan maudhu’ yang banyak beredar di masyarakat bekaitan dengan bulan Ramadhan. Semoga bermanfaat.

Download ( 144 KB )

Chm al-manhaj versi Ramadhan (chm)

Tanya jawab dengan para ulama ahlussunnah, tentang berbagai permasalahan yang berkaitan dengan hari raya (Ied), Puasa, I’tikaf dan Zakat.

Download ( 561 KB)

Enam Tips Sehat Puasa

Enam Tips Sehat Puasa

KapanLagi.com - Menjalankan ibadah puasa adalah sebuah kewajiban bagi umat muslim, namun jika ditilik dari sisi kesehatan dibalik nilai ibadah dari ritus yang dijalankan sebulan penuh tiap tahun ini, juga tersimpan banyak manfaat. Tapi tentu saja jika itu dijalankan dengan aturan yang benar dan tidak asal-asalan. Bagaimana memadukan antara ibadah dan mendapatkan manfaat bagi kesehatan kita, berikut kami suguhkan 6 tips menjalankan puasa sehat:

1. Jangan Tinggalkan Sahur

Sahur merupakan salah satu rangkaian dalam ibadah puasa Ramadhan yang sangat disarankan, dalam sebuah Hadist disebutkan bahwa "Bersabda Rasulullah SAW: "Sahurlah kamu, karena dalam sahur itu terdapat berkah yang besar". Kenapa sahur penting bagi kita yang menjalankan puasa?, Saat menjalankan puasa tubuh kita tidak mendapatkan asupan gizi kurang lebih selama 14 jam. Untuk itu supaya tubuh dapat menjalankan fungsi dengan baik, sel-sel tubuh membutuhkan gizi dan energi dalam jumlah cukup. Untuk menu sahur sebaiknya pilih makanan berserat dan berprotein tinggi, tapi hindari terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang manis-manis.

Banyak makan makanan manis disaat sahur akan membuat Anda cepat lapar di siang hari. Makanan manis membuat tubuh bereaksi melepaskan insulin secara cepat, insulin berfungsi memasukkan gula dari dalam darah ke dalam sel-sel tubuh dan digunakan sebagai sumber energi. Sedangkan makan makanan berserat membuat proses pencernaan lebih lambat dan membantu insulin dikeluarkan secara bertahap. Untuk membuat energi dari sahur tahan lama, bersahurlah lebih akhir saat mendekati imsak.

2. Jangan Tunda Berbuka

Setelah seharian menahan lapar dan dahaga tentunya energi kita terkuras, untuk memulihkan energi kembali, saat berbuka makanlah karbohidrat sederhana yang terdapat dalam makanan manis. Makanan yang mengandung gula mengembalikan secara instant energi kita yang terkuras seharian. Tetapi usahakan menghindari minum es atau yang bersoda, karena jenis minuman ini dapat membuat pencernaan tak berfungsi secara normal.

3. Makanlah Secara Bertahap

Biasanya begitu mendengar bedug magrib, tanpa tunggu lagi kita langsung menyantap habis hidangan yang disediakan diatas meja. Ini bukanlah pola yang bagus untuk kesehatan, setelah seharian perut kita tak terisi dan organ cerna beristirahat, sebaiknya jangan langsung menyantap hidangan dalam jumlah besar. Saat tiba waktu berbuka makan makanan manis, seperti kolak, atau minum teh hangat, istirahatkan sesaat, bisa Anda gunakan jeda itu untuk menjalankan sholat magrib sambil memberi waktu organ cerna kita menyesuaikan. Baru setelah sholat Anda dapat lanjutkan kembali makan makanan yang lebih berat seperti nasi dan lauk-pauknya. Dan setelah Tarawih dilanjutkan lagi dengan sesi makan kecil atau camilan.

4. Jangan Tinggalkan Olahraga

Menjalankan puasa bukan berarti berhenti total berolahraga. Justru aktivitas fisik tetap dibutuhkan untuk menjaga kelancaran peredaran darah agar kita tidak mudah loyo. Namun untuk urusan ini pilih olahraga ringan yang tak membutuhkan energi berlebih, seperti lari-lari kecil atau jalan kaki. Sebaiknya lakukan olahraga menjelang waktu berbuka. Tarawih selain ibadah juga sebagai sarana menjaga kebugaran
jasmani karena saat melakukan sholat tarawih sama dengan membakar kalori.

5. Konsumsi Cukup Air

Air merupakan zat yang sangat dibutuhkan tubuh. Lebih dari 60 % tubuh kita terdiri dari air. Untuk menjalankan fungsinya dengan baik setiap organ tubuh kita membutuhkan air. Tanpa air yang cukup tubuh akan mengalami gangguan. Untuk itu perbanyak minum air untuk simpanan dalam tubuh supaya semua organ berfungsi dengan baik. Yang disebut air disini bukan hanya berupa air putih, tapi susu dan teh pun juga termasuk di dalamnya. Supaya kebutuhan tubuh tercukupi, aturlah agar Anda minum delapan gelas air sebelum menjalani puasa esok hari.

6. Kendalikan Emosi

Rasulallah bersabda bahwa puasa itu bukan hanya menahan lapar dan dahaga tetapi juga menahan nafsu. Dengan kata lain tujuan puasa adalah me-manage emosi, belajar bersabar dan berupaya mendekatkan diri kepada Tuhan. Secara psikologis ini mempengaruhi mental-spiritual kita, dengan mengendalian emosi membuat jiwa kita
tumbuh lebih sehat, dan merasakan kedekatan dengan Allah membuat hati kita damai. (erl)


Kurangi Bau Mulut Saat Berpuasa

Tips
Kurangi Bau Mulut Saat Berpuasa

MASIH ingat pesan yang disampaikan Rasulullah saw, "Berpuasalah kamu, tentu kamu akan menjadi sehat." Hal ini mengisyaratkan adanya berbagai manfaat bagi kesehatan manusia di balik ibadah puasa ini. Tentu saja mencakup sehat secara jasmani, rohani, dan sosial secara keseluruhan. Lalu, bagaimana kiat kita dalam menjaga kesegaran saat berpuasa, kemudian bagaimana upaya kita dalam mengurangi bau mulut saat berpuasa?

Menurut Prof. H.M. Hembing Wijayakusuma, ada beberapa kiat-kiat (tips) biar tetap segar saat puasa, yaitu:

- Pada saat makan sahur dan berbuka, konsumsi makanan dengan kandungan gizi lengkap dan sebaiknya porsi makanan jangan berlebihan.

- Jangan terlalu banyak mengonsumsi minuman atau makanan yang manis secara berlebihan.

- Berolah raga, sebaiknya dilakukan olah raga ringan yang tidak terlalu menguras stamina.

- Tanamkan niat yang tulus dan ikhlas.

- Lakukan aktivitas positif, misalnya mengaji, membaca buku keagamaan, mengikuti kegiatan pesantren Ramadan, dan kegiatan positif lainnya.

Selain itu pada saat berpuasa seringkali timbul bau mulut (BM), hal ini karena mulut kering akibat kurangnya aliran air ludah. Ini tentunya akan sedikit mengganggu, dan dapat mengurangi kepercayaan diri. Untuk itu ada kiat-kiat yang bisa dilakukan dalam mengurangi bau mulut saat berpuasa, yaitu:

1. 15 gram kencur dibersihkan, kemudian di jus atau diblender. Tambahkan sedikit air dan gula merah hingga tertampung 200 cc, kemudian diminum pada saat makan sahur.

2. 10-15 lembar daun sirih dibersihkan. Kemudian direbus dengan 400 cc hingga tersisa 200 cc, lalu disaring. Dan selagi hangat gunakan untuk berkumur-kumur pada saat sahur.

3. 10-15 gram kencur dibersihkan dan diiris-iris lalu direbus dengan 400 cc hingga tersisa 200 cc. Kemudian air rebusannya diminum selagi hangat pada saat sahur.

4. Selain itu dianjurkan pula menjaga kebersihan gigi dan mulut, banyak mengonsumsi buah-buahan segar, dan hindari makanan yang menimbulkan aroma kurang sedap, misalnya petai, jengkol, dan sebagainya.

Dengan memperhatikan kiat-kiat tadi, mudah-mudahan puasa kita lancar dan tetap terlihat segar saat berpuasa. Di samping itu kita dapat mengarungi ibadah di bulan Ramadan ini, tanpa harus mengurangi kepercayaan diri kita di saat berpuasa. Selamat menunaikan ibadah puasa, dan selamat mencoba! (Budi Imansyah S.)***


Tips Tetap Bugar Saat Puasa

Bahwa puasa memiliki banyak manfaat rohani, kita semua pasti telah mengetahuinya. Namun, puasa memiliki banyak manfaat jasmani yang mungkin belum kita ketahui sebelumnya.

Yang jelas, dengan berpuasa kita mengistirahatkan organ pencernaan kita sehingga organ tersebut dapat dibersihkan dan membentuk zat-zat baru yang kita butuhkan. Puasa juga meningkatkan proses pembersihan dan pelepasan racun dari usus, ginjal dan kandung kemih, paru-paru serta kulit. Makanya, bukan hanya rohani kita saja yang dibersihkan, jasmani kita juga turut dibersihkan sehingga selesai menjalani ibadah puasa kita benar-benar seperti dilahirkan kembali.

Berikut ini adalah sejumlah hal yang dapat mendukung puasa Anda sehingga semakin meningkatkan manfaatnya bagi kebugaran dan kesehatan tubuh, yaitu:

Udara yang bersih, dibutuhkan untuk membantu pembersihan sel dan jaringan tubuh.
Sinar matahari, dibutuhkan untuk merevitalisasi tubuh kita. Hanya saja, hindari terpaan sinar matahari yang berlebihan.
Mandi sangat penting untuk membersihkan kulit, sekurangnya dua kali sehari. Mandi uap dan sauna juga baik untuk memberi kehangatan sekaligus membantu proses pembuangan racun.
Olahraga juga akan mendukung proses pembersihan tubuh. Hal tersebut akan menolong relaksasi tubuh, membersihkan dan mencegah gejala-gejala keracunan. Berjalan, bersepeda, berenang dan olahraga-olahraga lainnya dapat dilakukan selama menjalani puasa. Sebaiknya Anda
menghindari olahraga yang berbahaya dan dapat menimbulkan kontak fisik.
Lakukan lah hal-hal yang berguna dan kreatif. Menyibukkan diri dengan berbagai hal akan mengalihkan perhatian Anda dari hal-hal yang kurang baik.
Selain "membersihkan" hati dan pikiran, tak ada salahnya Anda juga membersihkan benda-benda dan tempat-tempat yang selama ini mungkin lupa Anda bersihkan, misalnya meja kerja, kamar atau lemari Anda.
Berkumpullah dengan yang lain. Puasa adalah saat yang tepat untuk menjalin ikatan dan mempererat tali persaudaran dengan orang lain.

Selamat menjalankan ibadah puasa. (KOMPAS/ACA)

PSIKOTES: KEBENARAN, KEKUASAAN


Oleh: Audifax§

Sekitar tahun 1985, ketika kelas 1 SMP, saya mengikuti psikotes yang diwajibkan bagi semua siswa kelas 1. Dalam psikotes itu, ada beberapa pertanyaan yang saya ingat, antara lain: “Di manakah Brazilia?”, “Di Manakah Buenos Aires?”, “Apakah Vatikan itu?”. Ketika saya kelas 1 SMA, sekitar tahun 1988, saya menemui lagi pertanyaan-pertanyaan itu ketika mengikuti psikotes yang wajib diikuti oleh semua anak kelas 1. Selang beberapa tahun kemudian, ketika saya masuk Fakultas Psikologi, saya menemukan pertanyaan-pertanyaan itu pada salah satu tes ketika mengikuti sebuah mata kuliah yang mengajarkan berbagai tes. Saat ini, di tahun 2005, saya masih menemukan pertanyaan-pertanyaan itu pada sejumlah tes psikologi yan dilakukan di sejumlah sekolah maupun institusi lain. Bagi saya, itu sebuah ironi yang menyedihkan, orang-orang yang menggunakan tes itu seolah menganggap bahwa sang waktu telah membeku. Lebih menyedihkan lagi orang –orang yang mengerjakan tes itu, kemanusiawian mereka terpasung oleh pertanyaan yang dianggap mampu mengukur kemampuan mereka, padahal itu adalah pertanyaan yang sama dalam kurun waktu 20 tahun.
Fakta ini membawa kita pada sejumlah pertanyaan. Seberapa pertanyaan-pertanyaan itu masih memiliki valliditas untuk mengukur kemampuan seseorang? Bagaimana orang-orang yang menggeluti psikologi itu bisa menafikkan perkembangan dunia?. Siaran langsung pemakaman Paus, Maradona, bintang-bintang sepakbola dari Brazilia dan Argentina; bahkan telenovela adalah hal-hal yang jelas-jelas akan merubah validitas pertanyaan-pertanyaan itu. Lalu, bagaimana pertanggungjawaban hasil dari tes itu?. Padahal kita tahu bahwa psikotes tak jarang menentukan “nasib” seseorang. Dalam dunia kerja, seseorang bisa tidak diterima, dimutasi atau bahkan dikeluarkan akibat hasil psikotes. Seorang siswa bisa dikategorikan bodoh, terbelakang, dan berbagai label lain, karena hasil psikotes.
Validitas hasil psikotes bisa makin runyam jika kita memperhitungkan telah begitu banyak diterbitkan buku yang memberi petunjuk cara menjawab psikotes. Sementara kita juga mulai bisa mempertanyakan validitas alat berbasis kemampuan menghitung yang terdapat pada tes Pauli, Kraeplin [dan yang secara parsial juga ada di beberapa tes IQ]; ketika di masyarakat bermunculan kursus-kursus seperti Sempoa dan Mental Aritmetika. Psikotes sendiri, sebelum sampai pada semua permasalahan ini, masih menyimpan problem internal berkaitan dengan adaptasinya pada budaya Indonesia. Sebagian alat-alat yang digunakan sebagai psikotes, masih menyimpan bias budaya. Alat-alat yang menggunakan gambar seperti TAT misalnya, sebagian menggunakan latar situasi (bangunan, pakaian, pemandangan) yang asing untuk Indonesia.
Kebenaran
Ironisnya, psikotes, masih menjadi berhala di sejumlah institusi. Lembaga pendidikan setara SMP dan SMU selalu melakukan psikotes untuk “mengkategorikan” kemampuan anak didiknya. Baru-baru ini, saya dengar bahwa jenjang pendidikan setingkat TK pun melakukan psikotes untuk penerimaan murid. Kita juga bisa melihat bahwa perusahaan-perusahaan masih menggunakan psikotes untuk menerima, memutasi atau memberhentikan karyawan. Bahkan, ketika saya menulis artikel ini, ada berita bahwa pemilihan Kepala daerah (Pilkada) juga menggunakan psikotes sebagai salah satu tahapan yang harus dilalui para calon kepala daerah. Dengan begitu banyak kelemahan dalam hal validitas, ternyata psikotes masih juga ditempatkan sebagai “kebenaran” dalam berbagai hal. Sebuah kebenaran yang menjadi acuan bagi keputusan akan nasib dan penilaian terhadap kemampuan manusia. Lebih jauh, kebenaran ini dapat pula mentaksonomi manusia, menempatkannya dalam hirarki kualitas yang akan menentukan nasib dan hidupnya.
Pada suatu titik; psikotes membuat manusia tak lebih dari sekedar angka. Manusia kehilangan keunikan diri, segala kelebihan yang hanya dimiliki oleh dirinya sebagai pribadi unik [dan satu-satunya di dunia] akan hilang oleh kriterium psikotes. Manusia telah dimasukkan dalam penyeragaman yang membuatnya tak lebih dari kerumunan; bahkan, sampai batas tertentu menjerat manusia dalam jejaring kekuasaan. Nasibnya, berada di bawah kekuasaan orang lain yang memiliki modal tertentu. Kemanusiaannya ditentukan oleh interpretasi psikologis yang dilakukan oleh orang-orang tertentu yang memiliki lisensi. Saya ulangi lagi, “memiliki lisensi”; artinya tidak sama dengan memiliki kemampuan. Memiliki lisensi, belum tentu memiliki kemampuan, tapi dalam “wacana psikotes” antara “memiliki lisensi” dan “memiliki kemampuan” kerap ditumpangtindihkan. Lebih jauh, kepemilikan akan lisensi itu sendiri, telah menjadi bagian dari kekuasaan ketika lisensi itu hanya bisa dikeluarkan oleh aparatus tertentu.
Lisensi untuk menginterpretasi dan menentukan nasib orang ini, hanya bisa diperoleh ketika seorang sarjana psikologi mengikuti pendidikan profesi yang diadakan oleh sejumlah fakultas Psikologi. Bagi angkatan 1992 dan sebelumnya, lisensi ini bisa diperoleh melalui pelatihan diagnostik yang diadakan oleh organisasi profesi, dalam hal ini Himpsi. Sampai di sini, program profesi psikologi maupun Himpsi, adalah ‘aparatus’ yang memiliki kekuasaan untuk melegitimasi kebenaran psikotes melalui penyelenggaraan pendidikan yang akan menghasilkan lisensi-lisensi yang dipertukarkan dengan hak menginterpretasi psikotes. Apapun hasilnya, jika psikotes telah diinterpretasi mereka yang memegang lisensi, akan ditempatkan sebagai kebenaran. Akhirnya, dalam wacana psikotes, psikologi menjadi tak lebih dari ilmu yang sifatnya tekstual ketimbang kontekstual. Pada sisi tertentu, psikologi telah jaut ke dalam bentuk ‘pertukangan’ yang hanya mengoperasikan alat-alat tes.
Inilah yang dijelaskan Pierre Bourdieu sebagai kekuasaan yang beroperasi melalui modal simbolik. Angka-angka dalam psikotes menjadi modal simbolik. Lisensi menggunakan alat-alat psikotes adalah modal simbolik. Gelar psikologi adalah modal simbolik. Keanggotaan Himpsi adalah modal simbolik. Modal ini berguna untuk mendominasi orang lain, melegitimasi dan memapankan posisi sendiri. Dalam pembahasan Bourdieu, sebenarnya dicermati kenyataan bahwa kekuasaan beroperasi dan menyembunyikan diri melalui budaya. Dalam konteks ini, kita mencermati kekuasaan yang beroperasi dalam “budaya akademis”. Kelompok terdominasi adalah kumpulan individu-individu yang menerima begitu saja (taken-for-granted) terhadap konstruksi-konstruksi yang ditawarkan oleh kelompok pendominasi. Agar kelompok yang didominasi menerima begitu saja, maka kelompok terdominasi harus memiliki modal yang mampu melegitimasi dominasinya melalui penaklukan moral dan intelektual kelompok terdominasi. Modal adalah hal-hal yang dalam kebudayaan merupakan suatu yang diyakini penting.
Dalam psikotes, orang menjadi tak lebih dari angka-angka. Nasib orang dan bagaimana orang itu digambarkan ditentukan oleh angka yang dimilikinya. Sedangkan dalam wacana pendidikan, kita menemukan pula bahwa sistem pendidikan pun meredusir manusia sebatas angka. Angka membuat orang dapat dikategorikan bodoh, pintar, juara, rangking, cum laude, summa cum laude, teladan, dll. Banyak orang menerima begitu saja bahwa dirinya bodoh hanya dengan patokan angka itu. Orang jadi tidak mengenali diri dan segala keunikan yang dimiliki. Sebaliknya, mereka yang oleh angka-angka itu dinobatkan sebagai makhluk-makhluk exellent, menerima begitu saja tanpa pernah merefleksikan kelayakan dirinya. Situasi seperti ini menjadi titik berangkat beroperasinya kekuasaan.
Psikotes yang diyakini sebagai kebenaran ini persis seperti apa yang digambarkan oleh Jacques Lacan seperti bayi yang melihat melihat bayangan dirinya di cermin (image), ia berpikir bahwa itu adalah dirinya. Tetapi sebenarnya bukan, itu hanya image. Tetapi orang lain (ibu) meyakinkan bahwa bayangan dalam cermin itu adalah dirinya. Pengidentifikasian diri ini disebut misrecognition, ketika bayi melihat bayangannya di cermin, ia berpikir bahwa bayangan (image) itu adalah dirinya. Sehingga Lacan berpendapat bahwa ego atau self atau “I”dentity merupakan fantasi, karena proses pengidentifikasian berasal dari eksternal image dan bukan internal. Seperti ini pula yang terjadi pada orang-orang yang meyakini hasil psikotes. Pada titik ini, orang justru jatuh ke dalam kolam citraan dan teralienasi dari dirinya sendiri. Ia mengambil begitu saja citraan yang dilekatkan orang atas dirinya dan membiarkan dirinya berada di bawah kekuasaan orang lain yang menentukan “kenormalan” dirinya, kelayakannya untuk dapat diterima sebagai anggota suatu komunitas.
Kekuasaan
Foucault mengatakan bahwa “kekuasaan yang menormalisir” tidak hanya dijalankan dalam penjara, tetapi juga beroperasi melalui mekanisme-mekanisme sosial yang dibangun untuk menjamin kesehatan, pengetahuan, dan kesejahteraan. Kekuasaan dalam pandangan Foucault disalurkan melalui hubungan sosial yang memproduksi bentuk-bentuk kategorisasi perilaku sebagai baik atau buruk, dalam upaya pengendalian perilaku. Relasi sosial itulah yang memproduksi bentuk pemahaman subjektif atas perilaku dalam kompleksitas yang dihadirkan sebagai bentuk restriksi. Dengan demikian, manusia menjadi layak untuk ditundukkan bukan dengan cara kontrol yang bersifat langsung dan fisik, tetapi melalui wacana dan mekanisme, prosedur, aturan, tata cara dan sebagainya.
Foucault menganalisa keterkaitan antara kekuasaan, pengetahuan, dan diskursus yang berkembang pada kemapanan penjelasan berdasar rasionalitas; yang hadir secara progresif dan telah diyakini banyak orang; sehingga memfungsikannya sebagai normalisasi yang menyeragamkan. Kita dapat melihat ini pada begitu banyaknya orang yang mempercayai begitu saja psikotes. Ini membuat intrepretasi-interpretasi psikologis diterima begitu saja sebagai penjelasan atas kemampuan seseorang. Pada titik ini, orang dipaksa untuk berada pada keseragaman kriterium penilaian yang telah dimapankan sebagai penjelas kualitas manusia. Kemapanan penjelasan inilah yang kemudian menjadi kerangka kerja rasional-empiris yang diletakkan sebagai basis dari segala kebenaran dan pengetahuan. Hegemoni penjelasan yang diletakkan di atas rasionalitas dan diinstitusi ini; memarjinalisasi diskursus lain serta mencipta dan memvalidasi suatu jaringan kekuatan sosial yang sifatnya normatif dengan mengedepankan disiplin serta pembatasan pemikiran individu hanya pada ranah mikrolevel.
Hasil psikotes, meminjam istilah Jorge Luis Borges, lebih berfungsi sebagai peta yang mendahului daerah (peta a teritori) ketimbang daerah yang menjadi acuan membuat peta (teritori a peta). Orang akan cenderung mengafirmasi dan memperlakukan orang lain berdasarkan hasil psikotes. Apalagi, hasil psikotes, kebanyakan justru tidak diketahui oleh pribadi yang menjalani tes. Hasil-hasil psikotes, kebanyakan dipegang oleh HRD atau guru BP. Dalam cara pandang Foucault kita menempatkan psikotes dan penggunaannya sebagai wacana; ini berarti psikotes tak hanya yang memuat serangkaian kata atau proposisi dalam teks, tetapi juga sesuatu yang memproduksi sesuatu yang lain (sebuah gagasan, konsep, atau efek). Lebih kontekstual, kita dapat menempatkan psikotes sebagai wacana yang dapat dideteksi; karena secara sistematis, suatu ide, opini, konsep, dan pandangan hidup dibentuk dalam suatu konteks tertentu sehingga mempengaruhi cara berpikir dan bertindak tertentu. Psikotes, tak lepas dari wacana ilmu sosial; di mana psikologi sebagai salah satu cabangnya, membentuk suatu konsep yang mentaksonomi manusia dalam berbagai kategori. Klaim kebenaran yang diatasnamakan sains, membuat psikotes berubah menjadi alat kekuasaan, terutama ketika orang kerap percaya begitu saja taksonomi yang muncul dari perangkat ini.
Taksonomi “ke-manusia-an” ini lebih merupakan suatu upaya menguasai manusia. Dalam nature-nya yang absurd dan terus berubah, manusia adalah entitas yang sulit untuk dikuasai, namun ketika dia telah masuk dalam suatu pendefinisian menetap (fixed definition), maka manusia akan lebih mudah dikuasai. Psikotes adalah salah satu fixed definition yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk menguasai pihak lain. Keberdayaan psikotes dalam menciptakan fixed definition tak lepas dari legitimasi ilmu pengetahuan beserta aparatus-aparatusnya. Psikotes, melalui penyelenggaraan program profesi psikologi oleh perguruan tinggi, telah ditempatkan sebagai kebenaran mutlak. Ilmu pengetahuan, pada titik ini telah berubah ke arah dogmatisme, karena orang menerima begitu saja tanpa memberikan cermatan lebih jauh pada hasil psikotes. Kesalingterkaitan antara kekuasaan dan pengetahuan ditandai Foucault dengan garis miring (/) yang ditempatkan di antara Kekuasaan (power) dan Pengetahuan (knowledge).
Kemanusiawian yang Hilang
Foucault menjelaskan bahwa kita disosialisasi ke dalam seperangkat praktik diskursif yang berupa struktur pemaknaan. Tetapi ini bukan struktur yang bersifat menetap atau tak bisa diubah. Manusia adalah agen yang memediasi struktur ini. Dengan demikian kelanggengan struktur ini sangat tergantung pada bagaimana penerimaan manusia. Dalam kaitan dengan psikotes, semakin kita menerima dan menempatkan hasilnya sebagai kebenaran, maka kita akan semakin terkuasai oleh struktur itu. Lebih jauh, kita akan semakin terasing dari kemanusiawian kita.
Kemapanan Psikotes sebagai kebenaran, memang tak lepas dari budaya dan ideologi yang berkembang di masyarakat. Psikotes, bisa jadi telah menjadi bagian dari budaya populer yang menyimbolkan modernitas. Sebuah ideologi dalam dunia sumber daya manusia yang dianut oleh orang-orang yang memerlukan pembenar semu dalam keputusannya. Pada titik ini, saya jadi teringat Antonio Gramsci yang menjelaskan bahwa budaya dan ideologi menciptakan makna tetapi makna ini secara konstan diperjuangkan melampaui struktur yang dimediasi oleh manusia sebagai agen. Ini lebih jauh dijelaskan dalam konsep mengenai hegemoni, di mana manusia tertaklukkan secara moral dan intelektual karena berbagai dalil yang tidak dicermati secara kritis. Orang percaya begitu saja bahwa mereka yang bergelar psikolog atau master dalam psikologi, adalah para “ahli” yang dapat menginterpretasi secara presisi kemanusiawian orang lain. Kita mungkin lupa bahwa kemanusiawian kita tak akan pernah bisa diinterpretasi atau ditaksonomi. Manusia justru bertumbuh dalam ketidakpastiannya, karena dalam ketidakpastian itulah terbetik harapan.
Jacques Derrida menjelaskan bahwa makna tak pernah menetap, dia secara konstan berubah. Makna tergantung manusia sebagai agen yang mengoperasikannya. Demikian pula dengan psikotes, dia bukan sebuah pemaknaan menetap akan manusia. Pemaknaannya akan sangat tergantung keterkaitannya dengan berbagai hal lain yang juga terus berubah (sinkronik) dan perubahan yang terjadi sepanjang rentang waktu (diakronik). Psikotes adalah salah satu upaya pencarian melalui proses pemaknaan. Sayang, dalam perkembangannya, orang banyak menetapkan sebagai acuan harga mati atau pemaknaan yang bersifat menetap. Psikotes bahkan berubah menjadi stigmatisasi ketika ditemukan interpretasi psikologis yang menyatakan bahwa seseorang menyimpang.
Manusia adalah entitas yang tak pernah memiliki pemaknaan menetap. Dia hidup dalam absurditas dan pergerakan pencarian diri, justru dalam absurditas dan pencarian inilah manusia menemukan kemanusiawiannya. Biarlah manusia tumbuh dalam absurditasnya, seperti Sisifus yang justru menemukan kebahagiaannya ketika dia dihukum oleh dewa untuk terus menerus mendorong sebuah batu besar ke puncak gunung; dan mengulanginya lagi karena setiap sampai ke puncak batu itu kembali menggelinding ke bawah. Seluruh kebahagiaan bisu Sisifus terletak pada proses ini, karena dengan demikian nasibnya adalah miliknya. Batunya adalah bendanya. Begitu pula manusia absurd, ketika ia merenungi kehidupan dengan segala ketidakpastian serta tanggung jawab hidup atas talenta yang dianugerahkan semesta padanya, ia berkemampuan untuk membuat semua [patung] berhala psikotes membisu.
Tulisan ini tak hendak mendiskreditkan psikotes maupun pihak-pihak yang menggunakan atau mengoperasikannya. Tak pula hendak merendahkan mereka yang memiliki lisensi menginterpretasi, karena saya tahu sebagian dari mereka memang handal dan kompeten. Hal esensial yang ingin saya sampaikan adalah bagaimana kita mencermati hal-hal di balik psikotes dan implikasi-implikasinya. Bagaimana anda menerima dan sejauh mana anda mempercayai psikotes, semua tetap merupakan pilihan bebas anda sebagai manusia.
Bagaimana cermatan anda?


© Audifax - 24 April 2005
Sumber : psikologi_transformatif@yahoogroups.com

Manusia Indonesia Abad 21 yang Berkualitas Tinggi Ditinjau Dari Sudut Pandang Psikologi


Oleh : Ieda Poernomo Sigit Sidi & Bernadette N. Setiadi
Himpunan Psikologi Indonesia, Jakarta


I. PENGANTAR
Kondisi sebelum abad 21 menampilkan komunikasi antar bangsa, negara, wilayah yang tidak mudah dilakukan. Banyak keterbatasan yang dihadapi, sehingga peristiwa yang terjadi di satu tempat tidaklah mudah diketahui oleh orang-orang yang tinggal di tempat lain. Dunia menjadi terpisah-pisah dalam ruang dan waktu. Kejadian di Amerika tidak akan mudah diketahui oleh mereka yang tinggal di belahan bumi lainnya seperti Eropa, Asia, Afrika, dan Australia. Dengan demikian pikiran, pandangan, gaya hidup masyarakat di wilayah tertentu bersifat lokal dan khusus, mengacu pada kebiasaan dan budaya setempat. Kondisi tersebut memunculkan berbagai ragam tatanan masyarakat dan gaya hidup.



Keterbatasan komunikasi juga mengisolir peristiwa yang berlangsung di wilayah tertentu. Peristiwa di Banda Aceh, misalnya, akan lama sekali sampai pemberitaannya di Merauke, Irian Jaya. Namun, berkat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menjelang abad 21, jarak tampaknya tidak lagi menjadi masalah. Menit ini peristiwanya terjadi, menit berikutnya seluruh dunia bisa mengetahuinya. Ditemukannya satelit membuat komunikasi menjadi lebih mudah. Kemudahan komunikasi inilah yang membawa penghuni dunia ke dalam kehidupan bersama, yang memungkinkan mereka saling berinteraksi, mempengaruhi dan dipengaruhi, juga dalam memilih dan menentukan pandangan serta gaya hidup.

Abad 21 ditandai dengan semakin membaurnya bangsa-bangsa warga masyarakat dunia dalam satu tatanan kehidupan masyarakat luas yang beraneka ragam tetapi sekaligus juga terbuka untuk semua warga. Gaya hidup yang menyangkut pilihan pekerjaan, kesibukan, makanan, mode pakaian, dan kesenangan telah mengalami perubahan, dengan kepastian mengalirnya pengaruh kota-kota besar terhadap kota-kota kecil, bahkan sampai ke desa. Bentuk-bentuk tradisional bergeser, diganti dengan gaya hidup global. Kesenangan bergaya hidup internasional mulai melanda. Perbincangan mengenai pengembangan hubungan antar negara menjadi mirip pembahasan tentang pengembangan komunikasi antar kota dan desa. Teknologi komunikasi memang memungkinkan dilakukannya pengembangan hubungan dengan siapa saja, kapan saja, di mana saja, dalam berbagai bentuk yakni suara dan gambar yang menyajikan informasi, data, peristiwa dalam waktu sekejap. Secara psikologis kondisi tersebut akan membawa manusia pada perubahan peta kognitif, pengembangan dan kemajemukan kebutuhan, pergeseran prioritas dalam tata nilainya.

II. KONDISI DAN SITUASI DI ABAD 21Proses menuju abad 21 telah berlangsung sejak tahun tujuh puluhan. Dalam percaturan internasional tak ada yang bisa menghindar atau mengelakkan diri dari proses ini. Pengaruh yang datang tak lagi bisa dibendung, mengalir deras tanpa kenal batas. Film, surat kabar, majalah, radio, televisi gencar menyuguhkan pemikiran, sikap dan perilaku yang sebelumnya tidak dikenal. Gaya hidup baru yang diberi label ‘modern’ diperkenalkan secara luas. Naisbitt dan Aburdene (1990) sebagaimana dikutip oleh Sri Mulyani Martaniah (1991) mengatakan bahwa era globalisasi memungkinkan timbulnya gaya hidup global. Tumbuhnya restoran dengan menu khusus dari mancanegara semakin menjamur, menggeser selera masyarakat yang semula bertumpu pada resep-resep tradisional. Gaya berpakaian dipengaruhi oleh garis-garis mode yang diciptakan oleh perancang kelas dunia. Kosmetika, aksesori, dan pernak-pernik lainnya untuk melengkapi penampilan tidak lepas dari pengaruh era globalisasi, seperti halnya tata busana. Selain mode, dunia hiburan juga tersentuh. Munculnya kafe, kelab malam, rumah bola (bilyard) memberi warna baru dalam kehidupan masyarakat. Demikian pula kegiatan pasar. Bentuk-bentuk pasar tradisional yang memungkinkan terjadinya keakraban antara penjual dan pembeli, sehingga keterlibatan emosional ikut mewarnai, perlahan menghilang dan berganti dengan transaksi ekonomi semata ketika muncul pasar-pasar swalayan.

Seiring dengan perubahan jaman, masyarakat pun mengembangkan norma-norma, pandangan dan kebiasaan baru dalam berperilaku. Era globalisasi yang mewarnai abad 21 telah memunculkan pandangan baru tentang arti bekerja. Ada yang lebih luas dari sekadar makna mencari nafkah dan ukuran kecukupan dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Orang cenderung mengejar kesempatan untuk bisa memuaskan kebutuhan aktualisasi diri, sekaligus tampil sebagai pemenang dalam persaingan untuk memperoleh yang terbaik, tertinggi, terbanyak. Untuk bisa mengikuti gaya hidup yang baru, diperlukan dukungan kemampuan ekonomi yang tinggi. Kebutuhan ini sangat terasa. Tawaran gaya hidup modern yang ditawarkan melalui kaca-kaca ruang pamer toko atau distributor benda-benda yang digandrungi masyarakat telah memacu banyak orang untuk bekerja tak kenal waktu. Orang sibuk mencari uang untuk bisa memiliki gaya hidup seperti yang ditawarkan. Apalagi media massa juga rajin menggelitik masyarakat untuk dapat mengikutinya, antara lain melalui iklan, sinetron, acara-acara hiburan, dan sebagainya. Kemajuan teknologi komunikasi abad ini telah memungkinkan berita dan cerita segera menyebar ke seluruh pelosok, menyapa siapa saja, tak peduli penerima pesannya siap atau tidak.

Wajah keluarga juga berubah. Perkembangan jaman yang merubah gaya hidup masyarakat ikut mewarnai kehidupan keluarga. Peran suami istri, pola asuh dan pendidikan anak tidak bisa mempertahankan pola lama sepenuhnya. Pengaruh yang diterima suami istri, juga yang diterima anak dalam proses perkembangannya, tak lagi bisa dipisahkan dari dunia di luar rumah. Melalui perangkat teknologi anak bisa langsung menerima pengaruh dari luar, yang tentu saja akan selalu mempunyai dua sisi, baik dan tidak baik, positif dan negatif. Situasi inilah yang akan mewarnai kehidupan anak dan orang tua di abad 21. Orang tua tak lagi menjadi pewarna tunggal dalam pengembangan pola sikap dan tingkah laku anak. Ada lingkungan yang lebih luas dan leluasa memasuki kehidupan keluarga dalam menawarkan berbagai bentuk perilaku untuk diamati, dipilih, dan diambil alih anak. ‘Teman’ dan ‘pesaing’ orang tua menjadi bertambah, sebab lingkungan memang tidak hanya terdiri dari dukungan atau penguat pesan-pesan dan nilai yang ditanamkan orang tua, tetapi juga menjadi penghambat dan pengganggu penerimaan pesan dan nilai tersebut.

Perkembangan kehidupan keluarga yang mewarnai abad 21 memunculkan penampilan ibu yang berbeda dalam peran dan fungsinya selaku penyelenggara rumah tangga dan pendidik anak. Seiring dengan pemunculan ibu dalam kegiatan di luar rumah (bekerja, melakukan kegiatan sosial-budaya), kehadiran ibu yang tidak lagi 24 jam di rumah menimbulkan pertanyaan tentang hasil yang bisa diharapkan dari pola asuhan dan pendidikan dalam situasi seperti itu. Apa jadinya setelah ibu juga sibuk di luar, padahal ibu dikenal selaku pendidik pertama dan utama? Bisakah anak tetap diharapkan mampu berkembang optimal tanpa kehadiran ibu? Kalau ibu tidak ada, siapa yang layak ditunjuk dan diserahi tanggung jawab sebagai pengganti? Pertanyaan ini menjadi terasa lebih bermakna karena ayah tak juga menjadi surut dari kegiatannya di luar rumah, bahkan cenderung meningkat seiring dengan tuntutan kehidupan abad 21. Nah, kalau ayah dan ibu sama-sama tidak bisa hadir penuh, lalu siapa yang harus menjadi pengganti mereka berdua? Padahal, kehadiran itu sangat diperlukan anak, tak peduli berapapun umurnya, sebab proses pendidikan berlangsung selama masa perkembangannya, sejak kanak-kanak sampai dewasa. Jadi, bukan hanya balita (anak berumur di bawah lima tahun) yang memerlukan kehadiran bapak dan ibu, tetapi juga anak pada tahapan perkembangan selanjutnya, yakni mereka yang berada dalam tahap perkembangan kanak-kanak, pra remaja, remaja, dewasa muda, dewasa.

Mencari pengganti ibu tampaknya merupakan masalah yang akan mewarnai abad 21. Tidak mudah memperoleh pengasuh anak.. Hampir tak ada lagi pengasuh anak dalam keluarga yang bisa membantu ibu dan berperan turun temurun, dari generasi ke generasi, seperti yang pernah dialami pada era sebelumnya. Unsur kesetiaan dan pengabdian sudah berubah menjadi transaksi ekonomi semata, sekadar menjual dan memakai jasa. Sementara itu gagasan untuk mengatasi masalah ini dengan mendirikan Tempat Penitipan Anak (TPA) masih memerlukan banyak pengkajian dan pertimbangan.

Masalah pendidikan anak yang mewarnai abad 21 perlu disikapi sungguh-sungguh sejak sekarang. Bekal untuk anak agar bisa tumbuh dan berkembang sebagai sosok pribadi yang sehat jasmani dan rohani, tangguh dan mandiri serta mampu beradaptasi dalam era globalisasi ini menjadi semakin perlu diperhatikan kualitasnya. Kondisi abad 21 yang memberi peluang besar bagi bangsa-bangsa di dunia untuk saling berinteraksi, sekaligus membawa ke suasana kompetisi atau persaingan yang semakin ketat dalam memperoleh kesempatan untuk mengisi kehidupan dan membuatnya menjadi bermakna (bisa sekolah, bisa bekerja dan mencari nafkah, dan sebagainya). Persaingan ini memerlukan ketangguhan dan keuletan dalam menghadapinya. Kebutuhan untuk "menjadi seseorang" dan "menjadi bagian" yang jelas kedudukannya bisa menjadi landasan untuk menumbuhkan motivasi pengembangan diri dan kemampuan beradaptasi. Kebutuhan ini erat kaitannya dengan pembentukan rasa percaya diri dan menumbuhkan motivasi untuk berusaha dan meraih kesempatan agar dapat senantiasa meningkatkan diri. Sikap yang mandiri, tak gentar menghadapi rintangan, mampu berpikir kreatif dan bertindak inovatif tapi juga peduli lingkungan adalah sosok yang diperlukan untuk menjalani kehidupan dalam era globalisasi. Jelas bahwa pengembangan sikap dan perilaku tersebut merupakan tuntutan yang lebih berat daripada hasil pendidikan yang menjadi tanggung jawab generasi sebelumnya. Kemampuan mengantisipasi masa depan dengan berbagai alternatif untuk mengatasi permasalahannya menjadi sangat penting untuk diperhatikan dalam proses pengasuhan dan pendidikan anak. Situasi ini tidak hanya merupakan masalah keluarga, melainkan juga seluruh pendukung proses pendidikan anak, yaitu masyarakat, bangsa dan negara.

III. PERILAKU MANUSIA INDONESIA
1. Kehidupan masyarakat pasca proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945
Kehidupan berbangsa dan bernegara mempengaruhi pembentukan pola perilaku masyarakat, yang tercermin dari perilaku individu selaku anggota masyarakat. Sebagai bangsa yang bangkit dari penjajahan (Belanda dan Jepang), di awal kemerdekaan manusia Indonesia mengembangkan perilaku penuh gairah membangun bangsa dan negara. Kebanggaan menyandang identitas sebagai bangsa dan negara yang merdeka dan berdaulat penuh mendorong terjadinya interaksi yang saling mengisi antar berbagai suku bangsa dalam semangat kesatuan dan persatuan, yang tercermin dalam lambang Bhinneka Tunggal Ika, walaupun berbeda tetap satu jua. Ada kebutuhan untuk saling mengenal, memahami dan menghayati agar kesatuan dan persatuan tidak hanya sekadar simbol, melainkan merasuk dalam kehidupan sehari-hari.

Kebanggaan dan cita-cita mempertahankan kemerdekaan serta keinginan untuk tampil sebagai bangsa yang dikenal dan dihormati dalam percaturan dunia telah membawa masyarakat dalam pengembangan perilaku kebersamaan, yang cenderung tidak mempertajam perbedaan latar belakang suku, pendidikan, agama, dan sebagainya. Menjadi Manusia Indonesia adalah tujuan yang diharapkan dapat dibentuk bersama oleh masyarakat "seribu pulau" ini. Ada kebutuhan yang ditumbuhkan untuk memotivasi masyarakat agar bisa tampil sebagai "Orang Indonesia" sebagai identitas diri yang baru, dengan tetap mempertahankan latar belakang warna suku bangsanya. Perpaduan berbagai ragam budaya pun dicari dan diusahakan bersama. Dengan falsafah gotong royong, semangat persatuan dan kesatuan, pembangunan bangsa dan negara mendapat dukungan dari berbagai lapisan masyarakat.

2. Pembentukan perilaku manusia Indonesia dalam masa Orde Baru

Peristiwa di tahun 1965 (pembubaran Partai Komunis Indonesia) kemudian memunculkan arah baru dalam pembentukan perilaku manusia Indonesia. Masa yang dikenal sebagai Orde Baru mengarahkan pembangunan di bidang ekonomi sebagai fokus utama. Masyarakat pun berpaling. Segenap lapisan berusaha mengikuti derap pembangunan yang baru, sesuai dengan kemampuan dan harapannya. Sejalan dengan perkembangan ini maka sikap dan gaya hidup masyarakat pun berubah. Manusia Indonesia seolah dipaksa masuk ke dalam persaingan global yang berciri khas kapitalisme. Para pengusaha siap menjelajah seluruh pelosok dan menelan siapa saja untuk mencapai tujuannya demi laba yang ingin diraih. Arief Budiman (1991) mengemukakan bahwa salah satu aspek ekspansi kapitalisme global adalah diciptakannya manusia-manusia yang serakah dan materialistis, sesuai dengan yang dibutuhkan oleh sistem kapitalisme. Produksi akan macet kalau manusia merasa sudah cukup dan tidak mau berkonsumsi lagi. Akibatnya, melalui iklan dan berbagai bentuk promosi lainnya manusia dibentuk menjadi berperilaku konsumeristis. Sikap serakah, materialistis, dan konsumeristis inilah yang mendorong orang untuk bekerja sekeras-kerasnya, demi memenuhi keinginannya yang tak kunjung terpuaskan. Kekayaan menjadi simbol status dalam sistem kapitalis. Ukuran tidak lagi pada kualitas manusianya, melainkan pada jumlah atau kuantitas harta yang dimiliikinya. Kejujuran tak lagi menjadi ukuran keluhuran perilaku. Menurut istilah Arief, "orang yang jujur tapi miskin tampak bodoh ketimbang orang yang kaya meski kurang jujur."

Sisi lain dari pengembangan sistem kapitalis adalah ditimbulkannya semangat individualistis, baik dalam berkonsumsi maupun berproduksi. Kolektivitas dan solidaritas dianggap tidak rasional. Kemampuan berkompetisi untuk meraih yang terbanyak, tertinggi, lalu berkonsumsi dalam jumlah banyak untuk meraih simbol status adalah tuntutan untuk bisa masuk dan bertahan dalam kehidupan sistem kapitalis. Akhirnya, kapitalisme bukan lagi sekadar sistem perekonomian belaka, tetapi sudah mencampuri nilai-nilai kehidupan dan menentukan arah tujuan hidup. Suasana inilah yang mewarnai periode pemerintahan Orde Baru. Upaya menciptakan manusia yang materalitis, individualistis, memiliki daya saing tinggi agar bisa menjadi pemenang dan mengalahkan pesaing-pesaing lainnya (siapapun dia) menjadi arah pembentukan perilaku oleh berbagai pihak.

Ada pemenang ada pecundang (the winner and the looser). Mereka yang mampu akhirnya memang ‘berhasil’ mengikuti gaya hidup global. Tapi, sebagian besar masyarakat Indonesia belum memiliki dukungan untuk bisa mengikuti gaya hidup yang baru. Keadaan ekonominya masih sangat jauh untuk bisa tampil dalam persaingan tersebut. Akibatnya, banyak orang menempuh jalan pintas. Korupsi, kolusi , koncoisme, nepotisme dilakukan orang dalam berbagai bentuk, yang sama buruknya dengan perilaku menipu, mencuri, merampok, melacurkan diri. Cara ini ditempuh orang-orang yang tidak memiliki kemampuan untuk bersaing tetapi sangat mendambakan kehidupan yang diciptakan oleh sistem kapitalis. Berdasarkan kondisi kemampuan ekonomi sebagian besar masyarakat Indonesia, Sri Mulyani Martaniah (1991) melihat banyak aspek dalam era globalisasi yang dapat berdampak negatif dan bisa menyebabkan patologi sosial dan memerlukan pengembangan psikologi komunitas sebagai salah satu cara mengatasinya.

Ada lagi kelompok lain, yaitu mereka yang tidak dapat melakukan cara-cara tersebut, tetapi tetap terimbas oleh kehidupan sistem kapitalis. Akibat bagi kelompok ini adalah perilaku yang menunjukkan perasaan tertekan (stress), depresi, bunuh diri, melarikan diri ke pemakaian obat-obatan dan minuman keras. Sebagian lainnya dari kelompok ini mengembangkan perilaku yang bersifat apatis. Mereka hanya menjadi penonton pasif dan mencoba bertahan dengan apa yang dimilikinya dan bisa dilakukannya, entah sampai kapan.

Manusia tak lepas dari lingkungannya. Kecenderungan mengikuti gaya hidup yang baru, yang "trendy" dan menempatkan nilai-nilai baru dalam ukuran keberhasilan telah merusak dan menghancurkan nilai-nilai tradisional yang sebelumnya dipegang teguh dan diyakini sebagai kebenaran. Nilai yang mementingkan kebersamaan dan menumbuhkan sikap gotong royong dilibas oleh nilai individualistis. Nilai yang meletakkan unsur spiritual berganti dengan unsur materi. Sikap yang mementingkan keselarasan dalam kehidupan bersama, sebagaimana yang telah mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia, diubah menjadi sikap yang selalu mau bersaing dan memenangkan persaingan, tak peduli apapun caranya dan siapapun yang dihadapi.

Dalam periode ini semua pihak, mau tidak mau, suka atau tidak, seolah dipaksa masuk ke dalam pembentukan perilaku persaingan global. Namun, di sisi lain, pada saat yang bersamaan tidak ingin meninggalkan cita-cita bangsa, yaitu terwujudnya masyarakat yang menjunjung tinggi kemanusiaan dan keadilan sosial. Benturan antara keyakinan terhadap nilai-nilai tradisional dan kenyamanan serta keamanan, yang pernah diberikan dalam cara kehidupan yang menjunjung tinggi kebersamaan, dengan kehidupan sistem kapitalis melahirkan konflik-konflik pribadi yang cukup tajam pengaruhnya dalam proses pembentukan perilaku.

Bayang-bayang kehidupan masyarakat dalam masa Orde Baru dengan berbagai benturan kepentingan dan kebutuhan itulah yang kemudian memunculkan Era Reformasi, yang ditandai oleh "lengsernya" Soeharto dari jabatannya selaku Presiden Republik Indonesia setelah berkuasa selama 32 tahun. Wajah masyarakat muncul beraneka ragam. Berbagai bentuk perilaku tampak mencerminkan kondisi dan situasi yang dimiliki masing-masing, baik sebagai individu maupun kelompok, yang semula ditekan kuat-kuat agar tidak muncul ke permukaan dan tidak menimbulkan konflik terutama bagi mereka yang berbeda pendapat. Demonstrasi, pembentukan partai-partai baru, penjarahan, perkosaan, doa bersama, tuding menuding, menghujat dan dihujat mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia saat ini. Negeri seribu pulau dengan nyanyian nyiur melambai yang melambangkan kenyamanan dan kedamaian seolah terpuruk dalam tangis Pertiwi yang meratapi nasib bangsa dan negara yang tampak ‘carut marut’ oleh berbagai kepentingan dan kebutuhan. Kondisi dan situasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang dirasakan dalam keadaan terpuruk itu menjadi bertambah sulit proyeksinya ke depan, karena perilaku yang tampil di masyarakat tidak lagi mencerminkan kepedulian terhadap hukum dan aturan kehidupan bersama yang menimbulkan ketenteraman dan kenyamanan.

IV. MAKNA HUKUM DALAM PEMBENTUKAN PERILAKU Hukum dapat mengarahkan masyarakat ke arah pembaruan perilaku yang sesuai dengan kebutuhan mereka untuk dapat menghadapi berbagai tantangan, sekarang dan di masa yang akan datang. Ditinjau dari segi budaya hukum, yaitu bagaimana masyarakat mempersepsikan hukum, maka secara umum hukum dipersepsikan sebagai:

suatu tatanan normatif dalam kehidupan bernegara
berfungsi mengatur kehidupan warganegara dengan memberikan batasan tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan
bertujuan untuk melindungi tiap warganegara dengan mengacu pada nilai-nilai dasar seperti kemanusiaan dan keadilan
ditetapkan oleh otoritas yang legitimasinya diakui oleh seluruh warganegara.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dari sudut perilaku masyarakat, maka hukum memiliki dua fungsi, yaitu:

memantapkan pola perilaku masyarakat yang sudah ada dan ingin dipertahankan dan/atau
mengubah pola perilaku masyarakat yang ada saat ini ke arah perilaku baru yang dicita-citakan.
Persepsi masyarakat terhadap hukum dan kenyataan yang dirasakannya dalam menerima perlakuan hukum adalah unsur penting dalam pengembangan perilaku hukum. Bila masyarakat sungguh mempersepsikan bahwa hukum melindungi kepentingan mereka dan dalam pelaksanaannya dilakukan oleh otoritas yang diakui legitimasinya oleh warga, maka proses pemantapan ataupun perubahan perilaku yang dilakukan melalui pendekatan hukum akan dapat terlaksana secara teratur dan terencana.

Kepastian hukum dan jaminan pelaksanaannya merupakan landasan bagi masyarakat dalam pengembangan perilaku normatif yang diperlukan bagi keamanan dan kenyamanan kehidupan bersama. Kepercayaan masyarakat terhadap aparat penegak hukum dan proses penegakan hukum merupakan unsur penting dalam mengembangkan perilaku yang peduli hukum, yang tampil dalam bentuk perbuatan yang memahami aturan, melaksanakan aturan, dan kesediaan menanggung konsekuensi akibat pelanggaran hukum yang dilakukannya. Perasaan diperlakukan secara adil juga penting bagi dipatuhinya aturan-aturan dalam kehidupan bermasyarakat sesuai hukum yang berlaku. Sebaliknya, perlakuan hukum yang dirasakan berpihak akan mendorong timbulnya perilaku yang cenderung mengingkari, yang bisa muncul dalam bentuk "menghindari" atau bahkan melawan hukum (denda ‘damai’ atau suap).

Setiap anggota masyarakat diharapkan bisa secara mandiri memahami makna dan tujuan ditegakkannya hukum, sehingga dalam pelaksanaannya tidak terlalu memerlukan pengawasan. Dengan demikian jumlah aparat yang diperlukan untuk pengawasan dalam pelaksanaan hukum bisa lebih efisien. Salah satu ciri kemandirian adalah kemampuan memilih yang benar dari yang salah berdasarkan norma atau aturan yang berlaku di satu tempat dalam kurun waktu tertentu. Kesiapan seseorang untuk bisa mandiri dalam membedakan yang benar dan salah berdasarkan norma yang diyakininya dan dijadikannya sebagai pegangan dalam berperilaku memerlukan proses yang bertahap. Menurut Lawrence Kohlberg ada tiga tahapan pokok yang dilalui seseorang untuk mampu bersikap adil dan mengembangkan sikap dan perbuatan berdasarkan pertimbangan moral., yaitu:

Moralitas Prakonvensional. Pada tahapan ini dasar yang menjadi pegangan dalam bersikap dan bertingkah laku adalah pujian dan hukuman yang diberikan oleh lingkungan. Tingkah laku yang diancam hukuman tidak akan dilakukan lagi. Sebaliknya, perbuatan yang mendatangkan pujian atau hadiah akan cenderung diulang.
Moralitas Konvensional. Pada tahapan ini perilaku sudah lebih disesuaikan dengan norma yang dianut dalam lingkungan sosial tertentu. Sikap dan perilaku diarahkan supaya bisa dikelompokkan sebagai perbuatan seorang anggota atau warga masyarakat yang baik.
Moralitas Pascakonvensional. Pada tahapan ini prinsip-prinsip moral digunakan dalam arti luas, tidak sekadar hitam putih dan tidak mengacu pada batasan-batasan sempit yang berlaku hanya untuk kalangan masyarakat tertentu.
Perilaku masyarakat terbagi dalam tiga kelompok tersebut, yang dipengaruhi oleh proses perkembangannya. Tingkat kematangan pribadi sangat menentukan moralitas yang mendasari perilakunya.

Ada dua mekanisme belajar yang utama dalam membentuk perilaku manusia, yaitu:

Cara belajar instrumental
Cara belajar observasional
Belajar instrumental pada dasarnya mengatakan bahwa suatu perilaku yang diikuti oleh konsekuensi yang positif (reinforcement) akan diulangi, sedangkan perilaku yang diikuti oleh konsekuensi negatif (punishment) tidak akan diulangi. Contoh: Bila dalam pengalaman sehari-hari seseorang selalu mengalami bahwa "mengurus KTP dengan mengikuti prosedur yang berlaku" (perbuatan menaati peraturan) membuat dia kehilangan jam kerja berhari-hari, sedangkan dengan "mengurus KTP dengan memberi uang pelicin" (perbuatan melanggar peraturan) petugas malahan mengantar KTP baru ke rumah, maka menurut belajar instrumental, dia akan cenderung memberi uang pelicin setiap kali harus mengurus KTP di masa yang akan datang, walaupun perbuatan itu melanggar hukum. Menurut persepsinya, perbuatan itulah yang menghasilkan reinforcement sedangkan menaati hukum justru menghasilkan punishment.

Tentu dalam hal ini keterkaitan (contingency) antara suatu perilaku dengan konsekuensi yang menyertainya harus terjadi secara konsisten untuk suatu jangka waktu tertentu sebelum pola perilaku yang diinginkan dapat terbentuk. Tanpa adanya konsistensi ini maka perilaku yang diinginkan tidak akan dapat terbentuk. Misalnya bila pada suatu waktu si Anu akan melewati lampu merah dilarang oleh polisi, sedangkan ketika ia melakukan hal yang sama pada waktu lain polisi membiarkan saja hal tersebut maka tidak akan terjadi proses pengkaitan antara "melewati lampu merah" dengan "penilangan oleh polisi." Sebagai konsekuensinya tidak akan terbentuk perilaku "berhenti setiap kali melihat lampu merah."

Belajar observasional mengatakan bahwa seseorang dapat mempelajari perilaku baru atau memperkuat perilaku yang sudah dimilikinya hanya dengan mengamati orang lain (model) melaksanakan perilaku tersebut. Besarnya pengaruh perilaku model terhadap perilaku si pengamat tergantung pada tiga hal, yaitu:

penilaian pengamat tentang kemampuannya untuk dapat melaksanakan perilaku yang ditunjukkan oleh model
persepsi pengamat tentang hasil perilaku yang ditunjukkan model, yaitu apakah menghasilkan konsekuensi positif atau negatif
perkiraan pengamat, apakah ia akan menghasilkan konsekuensi yang sama bila ia juga melaksanakan perilaku yang ditunjukkan model.
Contoh: Si Polan belum pernah mangkir dari pekerjaan karena hal tersebut melanggat peraturan kerja yang ada. Namun si Polan mengamati bahwa atasan dan rekan kerjanya yang sering mangkir tidak pernah ditegur atau dihukum, malahan dapat menikmati uang dari hasil pekerjaan sampingan (reinforcement) yang dilakukan pada saat mangkir kerja. Dalam situasi ini si Polan pun akan cenderung untuk ikut mangkir kerja dan melakukan pekerjaan sampingan, sesuai dengan perilaku model yang diamatinya. Menurut Bandura (1986) belajar observasional dari model ini telah terbukti sebagai sarana yang ampuh untuk meneruskan nilai-nilai, sikap dan pola perilaku dalam masyarakat. Bila persepsi masyarakat tentang peranan hukum dikaitkan dengan kedua mekanisme belajar tadi, maka hukum sebenarnya merupakan suatu instruksi atau pemberitahuan dari otoritas yang diakui kewenangannya mengenai:

a) perilaku yang diharapkan dari semua individu yang dikenai oleh hukum tersebut

b) konsekuensi yang akan dialami individu pelaku bila ia melaksanakan atau menolak

melaksanakan perilaku yang dimaksud.

Agar hukum ini dapat berfungsi secara efektif, ada dua syarat yang perlu dipenuhi, yaitu:

hukum tersebut harus dimengerti oleh individu yang melaksanakannya dan oleh individu yang akan dikenai oleh hukum tersebut
konsekuensi dari dipatuhi atau tidak dipatuhinya hukum tersebut harus dijalankan secara konsisten dan berlaku umum tanpa pengecualian.
Arah pembangunan Indonesia dalam tiga dasa warsa terakhir ini, yang dikenal sebagai era Orde Baru, pada hakekatnya adalah pembangunan yang sangat menekankan pengembangan bidang ekonomi. Dalam konteks ini segala sesuatu diarahkan agar pertumbuhan ekonomi dapat terus berlangsung tanpa mengalami gangguan. Untuk itu harus selalu diupayakan terciptanya stabilitas ekonomi agar dapat menarik para investor. Stabilitas ekonomi memerlukan dukungan stabilitas politik, yang kemudian oleh para pejabat negara seringkali diinterpretasikan sebagai perlunya pendekatan keamanan (security approach). Tanpa terasa, secara bertahap, semakin banyak kebijakan, keputusan dan kebijaksanaan yang dibuat dengan dalih mempertahankan pertumbuhan ekonomi nasional, padahal dalam kenyataannya tidak jarang hal tersebut hanya menguntungkan pihak tertentu saja dan kadang-kadang bahkan merugikan rakyat kecil. Hal ini antara lain terlihat dengan dikeluarkannya peraturan-peraturan yang bertentangan dengan hukum, seperti pemberian hak monopoli untuk komoditi tertentu, keputusan-keputusan pengadilan yang dirasakan kurang adil, misalnya penyelesaian kasus Kedung Ombo dan hak tanah ulayat di Irian Jaya. Dalam bentuk lain, hal yang sama sering terlihat dalam proses penegakan hukum ataupun proses pengadilan di mana status, kekuasaan atau uang yang dimiliki pelanggar hukum ikut mempengaruhi jalannya persidangan maupun keputusan yang diambil.

Berbagai hal yang kurang menguntungkan dalam pengembangan perilaku masyarakat yang sadar hukum, sebagai bagian dari kehidupan berbangsa dan bernegara, masih diperburuk lagi dengan adanya dua hal yang sangat berpengaruh dalam pembentukan perilaku:

budaya feodalisme dan paternalistik yang membuka banyak peluang bagi yang berkuasa di berbagai tingkat untuk membuat aturan sendiri atau melakukan interpretasi subyektif terhadap hukum dan perundang-undangan yang ada, sehingga peraturan yang sama dapat diartikan berbeda oleh pejabat yang berbeda, di wilayah yang berbeda atau dalam kurun waktu yang berbeda.
adanya kecenderungan budaya untuk menghindari konflik terbuka dan mencari jalan kompromi yang menyebabkan orang sering lari ke prosedur penyelesaian konflik alternatif di luar pengadilan, padahal bentuk penyelesaian alternatif ini sangat dipengaruhi oleh kekuasaan atau status dari pihak-pihak yang ikut berperan dalam proses tersebut.
Berbagai hal tadi dengan sendirinya menurunkan wibawa para penegak hukum seperti hakim, pengacara, polisi, dan lain sebagainya serta menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem peradilan dan sistem penegakan hukum itu sendiri.

Apa arti kenyataan itu dilihat dari pendekatan belajar dalam rangka pembentukan perilaku menurut mekanisme belajar instrumental dan observasional?

Kenyataan bahwa seringkali ada peraturan-peraturan yang bertentangan atau tidak konsisten satu dengan yang lain akan menimbulkan kebingungan, baik di tingkat pelaksana maupun pada mereka yang dikenai oleh peraturan tersebut. Padahal untuk dapat terjadi proses pembentukan perilaku sesuai dengan yang dianjurkan oleh peraturan tertentu, syarat pertama yang harus terpenuhi adalah bahwa orang-orang yang terlibat di dalamnya harus mengerti dengan jelas, apa yang dimaksud oleh peraturan tersebut. Sebagai konsekuensinya, kondisi di mana terdapat kebingungan jelaslah bukan situasi yang memungkinkan terjadinya pembentukan perilaku yang sesuai peraturan.
Adanya penerapan hukum secara berbeda, tergantung pada status dan kekuasaan orang yang ikut dalam proses penyelesaiannya maupun pada status dan kekuasaan individu yang dikenai oleh hukum tersebut, menyebabkan konsekuensi dari hukum/peraturan tersebut tidak dapat dilakukan secara konsisten tanpa pengecualian. Bila kondisi ini tidak terpenuhi, maka pembentukan perilaku yang dituju oleh hukum tersebut tidak akan terjadi.
Kenyataan bahwa orang yang memiliki kekuasaan seringkali mendapat perlakuan yang menguntungkan (reinforcement) secara konsisten akan menjadikannya sebagai model bagi para pemegang kekuasaan pada tingkat yang lebih rendah. Sebagai akibatnya, semakin banyak para pemilik kekuasaan pada tingkat yang lebih rendah meneladani pola perilaku para pemimpin yang lebih tinggi. Namun, sayangnya peneladanan ini lebih jarang terjadi dalam hal menaati hukum tanpa pengecualian dan lebih sering terjadi dalam hal memperoleh perlakuan yang berbeda dan menguntungkan, sesuai dengan kedudukan atau kekuasaan mereka. Hal ini agaknya dapat menjelaskan semakin meningkatnya praktek korupsi, kolusi, koncoisme dan nepotisme di kalangan penguasa di berbagai tingkatan di negara kita.
Dengan perkataan lain, hukum tertulis yang berisikan instruksi atau pemberitahuan mengenai perilaku yang diharapkan dan sanksi yang merupakan konsekuensinya tidak efektif karena tidak dapat dilaksanakan secara konsisten dan berlaku umum tanpa pengecualian. Di sisi lain, hal-hal yang ingin dicegah oleh hukum, yaitu adanya perlakuan yang berbeda pada orang dengan status yang berbeda, justru menjadi semakin tumbuh subur di antara para pemegang kekuasaan. Hal ini disebabkan oleh karena mereka mengamati banyak sekali teladan dari penguasa yang lebih tinggi, yang menunjukkan bahwa "tidak menaati hukum secara konsisten dan tanpa pengecualian" justru memberikan konsekuensi positif (reinforcement) pada mereka. Dalam kondisi demikian kiranya akan sangat sulit untuk berharap bahwa pelaksanaan hukum secara konsisten tanpa pengecualian akan dapat ditegakkan.

Namun, yang tidak kalah pentingnya untuk direnungkan adalah konsekuensi yang mungkin terjadi bila keadaan seperti ini terus berlanjut. Dalam hal ini ada beberapa hal yang mungkin terjadi:

Mereka yang merasa dirugikan akan berusaha untuk memperjuangkan perbaikan melalui cara-cara yang dimungkinkan oleh hukum. Alternatif ini semakin mungkin untuk dipilih bila situasi dan kondisi memungkinkan dan cukup banyak anggota masyarakat yang memiliki pengetahuan dan mau bertindak asertif untuk mengupayakan perubahan (memiliki self-efficacy tinggi).
Bila situasi dan kondisi tidak memungkinkan alternatif di atas atau alternatif tersebut sudah diusahakan tetapi tidak membuahkan hasil maka akan muncul perasaan frustrasi. Dengan adanya stimulus tertentu sebagai pemicu, frustrasi ini dapat dengan mudah menjelma menjadi perilaku agresif. Pengamatan terhadap pengalaman di masa lalu menunjukkan bahwa dalam pola budaya yang berorientasi kekuasaan, orang-orang yang berstatus rendah lazimnya mencari perlindungan dalam kolektivitas (Lev, 1991). Bandura (1986) menemukan hal yang kurang lebih sama, yaitu bila cukup banyak orang yang memiliki self-efficacy tinggi, maka mereka cenderung untuk melakukan protes dan usaha kolektif untuk mengubah keadaan.
Bila perasaan frustrasi yang diakibatkan oleh tidak adanya kemungkinan untuk melakukan tindakan perbaikan berlangsung dalam waktu yang relatif lama atau bila berbagai upaya yang telah dilakukan berkali-kali tidak memberikan hasil nyata, maka sebagian besar kemungkinan mereka yang terlibat akan mengalami apa yang disebut sebagai "learned helplessness". Artinya, proses panjang dari berbagai upaya yang telah dilakukan namun tidak membuahkan perubahan yang diinginkan menyebabkan orang-orang ini belajar menjadi tidak berdaya dan tidak mau lagi berusaha, karena mereka tidak lagi percaya akan adanya hubungan antara usaha mereka dengan hasil yang ingin dicapai (bersikap apatis). Bila hal ini terjadi pada cukup banyak anggota masyarakat kita, khususnya orang muda, kiranya akan sulit bagi bangsa kita untuk dapat bersaing secara global di abad 21 dan menjadi bangsa yang percaya akan kemampuan diri sendiri.
Kondisi dan situasi negara dewasa ini, yang sedang dilanda berbagai kesulitan dalam kehidupan akibat krisis moneter berkepanjangan, serta terbongkarnya praktek-praktek pelanggaran hukum justru oleh mereka yang seharusnya dijadikan panutan masyarakat, baik sebagai penentu kebijakan maupun selaku aparat penegak, berdampak luas terhadap kondisi kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Krisis kepercayaan ini kemudian melahirkan sikap yang cenderung mengabaikan hukum. Perilaku masyarakat yang akhir-akhir ini menunjukkan kecenderungan melanggar hukum dalam memenuhi kebutuhannya dan ‘main hakim sendiri’ dalam menyelesaikan masalahnya, harus ditanggapi secara sungguh-sungguh dan tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, apalagi sampai dijadikan pola perilaku menetap karena ‘dilegalisir’ secara tak langsung oleh pejabat negara. Tanpa disadari pernyataan pejabat negara yang dimaksudkan sebagai simpati terhadap kesulitan hidup yang dialami warga masyarakat (atau justru menarik simpati masyarakat?) telah menimbulkan persepsi yang mengesankan ‘disahkannya’ perilaku hukum yang menyimpang. Contoh: pengungkapan dan penyelesaian masalah perbankan, tanah, operasi becak di Jakarta, kasus orang hilang, penjarahan, dan sebagainya.

Peristiwa huru hara di Jakarta dan kota-kota lainnya pada tanggal 13 dan 14 Mei 1998 dan hari-hari berikutnya semakin membawa negeri ini dalam keadaan terpuruk dengan krisis kepercayaan yang sangat berat. Situasi yang tak kunjung stabil, sementara masyarakat menantikan kepastian dalam penegakan hukum, akhirnya menumbuhkan sikap apatis dan putus asa dengan segala konsekuensinya. Kondisi ini mengantar pemerintah pada beban yang amat berat, terutama dalam hal pemulihan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Diperlukan sikap yang mampu menampung aspirasi ketiga kelompok masyarakat dalam pengembangan moral (prakonvensional, konvensional, pascakonvensional) agar kehidupan bersama bisa ditata kembali. Komunikasi yang digunakan, baik bentuk maupun jalurnya, harus sangat memperhitungkan karakter kelompok masyarakat secara cermat, sehingga tidak terjadi salah tafsir atau keliru interpretasi. Dalam kaitan ini pernyataan pejabat, penjelasan pemerintah, penetapan kebijakan harus mengacu pada kepentingan segala lapisan masyarakat, dengan memperhatikan karakteristik masing-masing, sehingga dapat dipahami dengan baik.

Bagaimana mengubah pola perilaku masyarakat melalui hukum? Seperti telah diuraikan terdahulu, salah satu fungsi hukum adalah untuk mengubah perilaku masyarakat ke arah yang diinginkan. Bila dikaitkan dengan prinsip-prinsip perubahan perilaku berarti diperlukan hukum yang berisikan batasan perilaku yang diinginkan dan uraian yang jelas tentang konsekuensi yang akan diterima bila hukum tersebut ditaati atau dilanggar. Namun, agar sistem hukum yang baru dapat berfungsi secara efektif diperlukan persyaratan berikut:

Sistem hukum tersebut harus dimengerti oleh mereka yang akan melaksanakannya maupun oleh mereka yang akan dikenai oleh hukum tersebut. Hal ini berarti perlu dilakukan peningkatan keahlian (memiliki expert power) dari para penegak hukum sehingga keputusan-keputusan mereka dihargai dan dihormati oleh semua pihak. Di samping itu perlu pula dilakukan pendidikan/penyuluhan hukum bagi seluruh anggota masyarakat sehingga mereka mengetahui apa yang merupakan hak mereka dan apa yang merupakan tanggung jawab mereka.
Sistem hukum tersebut harus dilaksanakan secara konsisten dan mengikat semua warga tanpa pengecualian termasuk si pembuat hukum sendiri (Golding, 1975). Keberhasilannya terutama akan sangat ditentukan oleh keteladanan (memiliki referent power) dan political will dari para pemegang kekuasaan serta komitmen dari semua pihak.
Sistem hukum tersebut didukung oleh sistem dan budaya demokratis di mana masyarakat dan pers dapat menjalankan fungsi kontrol.
Bagaimana proyeksi kita ke depan? Pengalaman selama enam Pelita menunjukkan bahwa pembangunan yang hanya menekankan pertumbuhan ekonomi tanpa disertai dengan pertumbuhan yang seimbang di bidang sosial, politik dan hukum ternyata tidak berhasil meningkatkan daya saing kita di dunia internasional. Berarti kita memerlukan suatu pembaharuan yang menyeluruh sifatnya dan mencakup berbagai aspek kehidupan bangsa. Beberapa hal yang dapat disebutkan antara lain adalah:

Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa agar dapat menjadi bangsa yang percaya diri dan sekaligus mampu berkiprah di dunia internasional. Untuk mencapainya diperlukan suatu transformasi sosio-kultural dari budaya feodal, paternalistik dan berorientasi kekuasaan menuju budaya yang lebih bersifat demokratis, partisipatif dan berorientasi ke depan.
Untuk dapat berkiprah di dunia internasional kita perlu memperoleh kepercayaan dari dunia internasional. Untuk itu kita perlu memiliki hukum yang mengacu pada nilai-nilai universal seperti penghargaan terhadap Hak Asasi Manusia, demokrasi, dan lain sebagainya. Selain itu, salah satu hal pokok yang dapat membina kepercayaan dunia internasional ialah adanya sistem hukum yang berwibawa dan berlandaskan asas-asas hukum modern dengan dukungan sistem peradilan yang dapat diandalkan.
Dalam kaitan ini perlu dipahami bahwa betapapun bagusnya rencana, sistem, maupun kelembagaan yang diciptakan, kemungkinan berhasilnya akan sangat kecil bila tidak didukung oleh perubahan yang mendasar dalam pola pikir, sikap dan perilaku pada tingkat individu sebagai anggota masyarakat.

Ada dua alternatif keadaan masyarakat Indonesia berdasarkan analisis tersebut, yakni:

menjadi bangsa yang mengalami "learned helplessness", apatis, tidak percaya diri dan tidak mampu bersaing di tatanan global atau
menjadi bangsa yang memiliki self-efficacy, percaya diri dan mampu bersaing di tatanan global.
Indonesia, sebagai bangsa dan negara, juga secara individual, memiliki dua pilihan tersebut. Namun, bila dilihat dari sudut belajar observasional di mana unsur keteladanan (referent power) memegang peranan penting dalam mengubah pola perilaku, maka sikap pemimpin bangsa dan negara ini menjadi sangat bermakna. Semakin tinggi status seseorang dan semakin besar kekuasaan/pengaruhnya, maka semakin menentukan pula pilihannya bagi masa depan bangsa.

V. PERANAN KELUARGA DALAM PEMBENTUKAN PERILAKU DAN PROYEKSI DI ABAD 21Suasana pembangunan yang lebih terfokus di bidang ekonomi ditingkah dengan era globalisasi telah mengubah tatanan kehidupan masyarakat. Tawaran untuk menikmati gaya hidup global telah mendorong semua orang untuk sibuk mencari uang, dengan berbagai cara. Setiap orang, laki-laki dan perempuan, berusaha pagi dan petang. Mereka membanting tulang dan memeras keringat untuk meraih yang terbaik demi gaya hidup global. Tentu saja kondisi ini berpengaruh terhadap kehidupan kekeluargaan, yang menjadi kurang terbina. Mulailah terjadi kerenggangan antara suami istri, orang tua dan anak, yang tentunya sukar untuk diharapkan sebagai tempat persemaian tumbuh kembang anak secara optimal. Era globalisasi juga melahirkan kompetisi yang membutuhkan kompetensi tinggi di segala bidang untuk bisa menjadi pemenang. Hanya yang terbaik yang bisa memenangkan kompetisi. Akibatnya, orang tua memaksa anak meninggalkan dunianya dan mengisinya dengan upaya pembekalan diri untuk dapat meraih kompetensi sebanyak-banyaknya. Dunia kanak-kanak yang ceria tak lagi bisa dinikmati, berganti dengan jadwal ketat yang mengantarnya pada situasi yang selalu serius dan memandang jauh ke depan. ‘Paksaan’ yang melanda anak dalam penafsiran era globalisasi di bidang ekonomi ini tentunya bisa berdampak negatif terhadap perkembangan anak di kemudian hari, baik terhadap kehidupan pribadinya maupun dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Newman & Newman (1981) menyebutkan tiga unsur pendukung kemampuan seseorang untuk bisa menyesuaikan diri dengan baik, yaitu dirinya sendiri, lingkungan dan situasi krisis dalam pengalaman hidupnya yang sangat membekas dalam dirinya. Pada unsur pribadi (diri sendiri) tercakup kemampuan untuk bisa merasa, berpikir, memberikan alasan, kemauan belajar, identifikasi, kesediaan menerima kenyataan, dan kemampuan memberikan respon sosial. Kemampuan tersebut didasari oleh tingkat kecerdasan yang dimiliki, temperamen, bakat, dan aspek genetika. Berdasarkan konsep tersebut maka proses penyesuaian diri bagi anggota masyarakat merupakan keterkaitan yang sangat erat antara kondisi pribadi, situasi lingkungan dan kemampuan mengelola pengalaman.

Pembentukan perilaku normatif dimulai dari pengenalan terhadap aturan yang berlaku dan terapannya dalam kehidupan sehari-hari, yang kemudian menjadi pengalaman yang terekam dalam kehidupan seseorang. Selanjutnya, dengan bekal kemampuan yang dimilikinya, terjadi proses pengambilalihan norma di luar diri menjadi pengembangan nilai-nilai yang dijadikan pegangan dalam berperilaku (internalisasi). Tergantung dari tingkat kematangan pribadinya, pengembangan nilai dalam diri sendiri bisa dilakukan secara mandiri, bahkan bernuansa luas, dan mampu dipertahankan secara tangguh dalam berbagai kondisi dan situasi. Pada tingkat seperti ini orang tersebut tidak akan mudah terpengaruh atau terbawa suasana lingkungan. Dia tahu memilih yang benar, yang perlu, yang bermanfaat dan bisa dengan mudah membedakannya dari hal-hal yang bisa merugikan pribadi maupun lingkungannya. Pengalamannya berpadu dengan penalaran pikirnya, menghasilkan dialog yang terus menerus sebelum memutuskan sikap dan perilaku dengan kesadaran terhadap konsekuensinya, baik untuk diri sendiri maupun lingkungan.

Sikap dan perilaku orang tua sebagai anggota masyarakat yang menampilkan gaya hidup dan etos kerja serta pengembangan interaksi dengan lingkungan akan direkam anak, baik untuk kepentingan belajar instrumental maupun belajar observasional. Perilaku masyarakat menuju abad 21 tidak lagi mencerminkan setia kawan, gotong royong seperti yang tampak di era sebelumnya. Perilaku itu cenderung meluntur, terutama di kota-kota besar. Tingkah laku manusia di kota besar lebih mengarah pada kesibukan pribadi, tidak acuh, tidak peduli terhadap mereka yang kurang beruntung (individualis). "Pokoknya saya senang, saya berhasil, saya bisa meraih semuanya. Apa yang terjadi dengan orang lain, bukan urusan saya," kata si individualis, yang juga masuk ke dalam rekaman anak dan bukan tak mungkin dijadikannya pola bertingkah laku.

Ketidakpastian dalam penegakan hukum berdampak pula pada perilaku yang ditampilkan orang tua dan anggota masyarakat lainnya dalam bekerja dan berorganisasi, yang selanjutnya bisa dijadikan acuan oleh anak dalam mengembangkan dirinya. Tindakan yang lebih suka memilih jalan pintas untuk mencapai tujuan, tidak tepat waktu, unjuk kerja seadanya, lebih menuntut fasilitas daripada tanggung jawab adalah melunturnya etos kerja yang diamati anak dengan leluasa, di dalam maupun di luar rumah (orang tuanya sendiri maupun orang tua lainnya). Sikap mau menang sendiri, tidak adanya kepatuhan terhadap hukum, pelanggaran terhadap tata tertib yang berlaku adalah ketidakdisiplinan pribadi yang bisa ditangkap anak dari orang tua dan lingkungannya. Tindak kejahatan dengan kekerasan, baik yang berupa pengrusakan, perampokan, penyiksaan, perkosaan juga pertikaian yang diakhiri dengan pembunuhan, walaupun penyebabnya mungkin sepele, adalah agresivitas yang masuk dalam benak anak dan bisa menjadi referensi dalam menjalani kehidupannya. Kesenangan berlebihan terhadap barang-barang simbol teknologi canggih dan kemapanan serta kenyamanan hidup sebagai kecenderungan hidup materialistik bisa dijadikan dasar pola pembentukan perilakunya. Penggunaan berlebih terhadap produk teknologi canggih tanpa memperhatikan kondisi lingkungan yang bisa dikatakan sebagai kecenderungan pendewaan teknologi adalah referensi lain yang sewaktu-waktu siap ditampilkan anak. Meningkatnya frekuensi dan intensitas perkelahian antar kelompok remaja dan dewasa muda adalah situasi lain yang diamati anak. Mereka melihat mengurangnya kemampuan menalar, komunikasi dan penyelesaian masalah melalui dialog di antara pelaku-pelakunya. Dalam hal ini pengaruh media massa terasa sangat bermakna.

Kesibukan kota besar yang segera merambah pelosok lainnya dengan gerak hidup cepat, bertubinya rangsangan kegiatan dan mobilitas pribadi yang tinggi menempatkan individu dalam situasi yang dilematis. Situasi tersebut membuat individu harus memilih antara pencarian kegiatan yang didasari oleh minat pribadi dengan pelestarian ikatan dan fungsi utama keluarga sebagai sarana dalam menyiapkan anggotanya untuk hidup bermasyarakat. Kecenderungan ini oleh para ahli dianggap sebagai melunturnya fungsi utama keluarga. Fokus perhatian yang lebih mengarah pada tugas-tugas di luar rumah agar tak kalah bersaing kemudian menjadi pilihan orang tua dan sekaligus menempatkan anak dalam kekosongan yang cukup bermakna, terutama dalam upaya pembentukan hati nurani yang akan menjadi pemandunya kelak, sebagai orang yang tangguh, mandiri, tapi juga peduli lingkungan dengan warna spiritual yang kental dan luwes. Apakah orang tua dan masyarakat menyadari kepentingan ini, juga bahwa masa depan bangsa dan negara ada di tangan anak-anak yang sekarang menjadi penonton dan pengamat perilaku orang tua, baik yang ada di rumahnya maupun di masyarakat, apapun peran dan fungsinya? Seberapa jauh kita menyiapkan anak-anak agar bisa berkualitas tinggi dalam abad 21 nanti?

Pendidikan adalah upaya membekali anak dengan ilmu dan iman agar ia mampu menghadapi dan menjalani kehidupannya dengan baik, serta mampu mengatasi permasalahannya secara mandiri. Bekal itu diperlukan karena orang tua tidak mungkin mendampingi anak terus menerus, melindungi dan membantunya dari berbagai keadaan dan kesulitan yang dihadapinya. Anak tidak akan selamanya menjadi anak. Dia akan berkembang menjadi manusia dewasa. Kalau perkembangan fisiknya secara umum berjalan sesuai dengan pertambahan umurnya, maka kemampuan kecerdasan dan perkembangan emosi serta proses adaptasi atau penyesuaian diri dan ketakwaannya sangat memerlukan asuhan dan pendidikan untuk bisa berkembang optimal. Melalui bekal pendidikan dan proses perkembangan yang dialaminya selama mendapatkan asuhan dari lingkungannya, diharapkan anak akan mampu menyongsong dan menjalani masa depannya dengan baik.

Memberi bekal adalah sikap yang mencerminkan pemikiran dan pandangan ke depan. Artinya, kondisi atau keadaan dan situasi yang akan dihadapi anak nantinya, ketika ia sudah menjadi orang dewasa, sangat perlu diperhitungkan. Kehidupan berjalan ke depan. Jadi, sangatlah penting mempertimbangkan kondisi dan situasi di masa depan itu dalam upaya memberikan bekal kepada anak. Sosok manusia dewasa hasil asuhan dan pendidikan orang tua dalam kurun waktu sekarang akan terlihat secara jelas dalam perkembangan anak menjadi orang dewasa. Berhasilkah pendidikan dan asuhan yang telah diberikan? Tercapaikah harapan dan cita-cita atau impian orang tua? Bahagiakah anak dengan yang diperoleh dan dimilikinya? Mampukah ia menjadi sosok pribadi yang diangankannya sendiri, yang mungkin sama dengan harapan orang tua dan lingkungan pendidiknya yang lain? Semua jawaban itu baru akan tampak nanti, ketika anak sudah menjadi dewasa.

Latar belakang pengertian tersebut hendaknya menjadi dasar pengembangan pola asuhan dan pendidikan untuk anak. Biasanya pendidikan diberikan berdasarkan pengalaman masa lalu, yakni ketika yang menjadi orang tua masih berstatus kanak-kanak, yang menerima pendidikan dari orang tuanya. Pengalaman masa lalu ini kerap kali cukup mewarnai pola asuhan dan pendidikan anak. Pemanfaatan pengalaman memang selalu ada gunanya. Akan tetapi sikap yang mampu mengantisipasi ke depan juga sangat penting, karena anak tidak akan hidup di masa lalu, tetapi menapak ke masa depan. Dengan demikian posisi pengalaman ketika menerima didikan dan asuhan orang tua di masa lalu hanyalah pantas sebagai acuan atau referensi, terutama dalam rangka mengembangkan empati (penghayatan, kemampuan merabarasakan dari sudut pandang atau posisi orang lain) agar komunikasinya bisa berjalan seperti yang diharapkan. Terapan pengalaman masa lalu ayah ibu, ketika dididik dan diasuh orang tuanya, perlu disesuaikan dengan kondisi dan situasi perkembangan jaman. Tanpa penyesuaian, pola asuh dan pendidikan yang dilakukan akan cenderung menyulitkan anak dalam perkembangannya, sehingga iapun akan tumbuh menjadi sosok pribadi yang sukar menemukan konsep diri, sulit menyesuaikan diri dan tentunya sulit mengaktualisasikan diri.

Proses pendidikan berlangsung dinamis, sesuai dengan kondisi perkembangan pribadi anak dan situasi lingkungan. Era globalisasi yang menandai abad 21 seyogianya tidak hanya dilihat sebagai hal yang mengancam, dengan dampak kecemasan atau kekhawatiran dalam mendidik anak, yang mungkin hanya akan menghasilkan kondisi perkembangan yang kurang menguntungkan. Kecemasan dan kekhawatiran biasanya akan menyebabkan orang tua menjadi tegang dan tertekan sehingga kurang mampu melihat alternatif, lalu justru menekan anak padahal tindakan itu lebih ditujukan untuk dapat menenteramkan dirinya sendiri.

Kondisi jaman dalam era globalisasi justru bisa dimanfaatkan untuk membangun sosok-sosok pribadi yang tangguh dan mandiri, antara lain karena terbiasa menghadapi persaingan yang ketat dan mampu memanfaatkan fasilitas dan peluang yang dibukakan oleh "pintu globalisasi." Untuk itu orang tua sangat perlu menyadari, bahwa kehidupan terus berkembang sesuai perputaran dunia, jaman pun berubah. Sangat diperlukan kemampuan dan kemauan untuk mengikuti perubahan dan senantiasa menyesuaikan diri.

Perubahan kondisi dan situasi orang tua dalam menjalankan peran dan fungsinya selaku pengasuh dan pendidik anak perlu diikuti dengan upaya menambah pengetahuan, meluaskan wawasan, dan meningkatkan keterampilan. Dengan sikap ini maka orang tua pun bisa diharapkan melaksanakan tugasnya dalam mengarahkan, membimbing, mendorong, membantu anak serta mengusahakan peluang/kesempatan untuk berprestasi optimal, sesuai dengan kemampuannya. Berpikir positif dan bersikap adaptif adalah sikap yang diharapkan dari para orang tua yang kini tengah mendidik dan mengasuh anak-anak yang akan memasuki era globalisasi. Tugas ini tentunya tidak hanya menjadi tanggung jawab ibu. Bersama, ayah dan ibu menyikapi perubahan jaman dalam kondisi yang lebih menguntungkan bagi anak, sehingga ia mampu menyongsong era globalisasi dengan keyakinan diri yang kuat, berdasarkan bekal yang diperolehnya dan kepercayaan akan rakhmat dan karunia-NYA.

VI. BEBERAPA PEMIKIRAN TENTANG KUALITAS MANUSIA INDONESIADari berbagai pembahasan mengenai kualitas manusia Indonesia dalam periode Orde Baru yang memfokuskan pembangunan di bidang ekonomi, terlihat kecenderungan untuk menyimpulkan beberapa insiden sebagai gambaran manusia Indonesia dewasa ini yang lebih menandakan sikap instrumental, egosentris, kurang peka terhadap lingkungannya, konsumtif, dan melakukan jalan pintas untuk mencapai kepuasan pribadi. Bernadette N. Setiadi dan kawan-kawan dalam penelitiannya (1989) menemukan hal-hal yang menguatkan pengamatan tersebut. Menurutnya, kualitas manusia Indonesia diwarnai oleh kurangnya etos kerja dan sangat berorientasi pada hasil akhir tanpa atau kurang memperhatikan proses pencapaian hasil akhir. Enoch Markum (1984) mengemukakan bahwa untuk menyongsong pembangunan tahun 2000 mendatang secara mutlak diperlukan manusia Indonesia dengan karakteristik tingkah laku seperti kemandirian, kerja keras, gigih dan prestatif. Saparinah Sadli dan kawan-kawan (1985) dalam penelitian tentang sistem nilai masyarakat kota besar yang dilakukan pada pertengahan dekade delapanpuluhan menemukan bahwa masyarakat kota mempunyai besar nilai terminal (preverensi tujuan hidup) yang diwarnai dengan hal-hal yang sifatnya materi. Sedangkan nilai instrumental (preverensi cara-cara pencapaian tujuan hidup) lebih ditandai oleh pengutamaan kompetensi pribadi.

Abad 21 yang memunculkan situasi makin terbukanya hubungan antar bangsa/negara membuat batasan sebelumnya menjadi tipis, sehingga berlangsung persentuhan aspek kehidupan mental psikologis, ekonomi, sosial, budaya. Bila dikaitkan dengan proses pembentukan tingkah laku manusia, maka proses globalisasi membawa kemungkinan sebagai berikut:

terjadi peningkatan interaksi, interdependensi dan saling pengaruh
terbuka pilihan pengembangan diri yang memerlukan penyesuaian prioritas tindakan secara terus menerus sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya. Secara psikologis terjadi perubahan kognitif, perubahan kebutuhan, yang kemudian membawa pembentukan nilai (pemberian skala prioritas) terhadap hal-hal yang dianggap bermakna dalam hidupnya.
La Piere (1981) mengartikan pembangunan sebagai suatu usaha yang secara sistematis direncanakan dan dilakukan untuk merubah kondisi masyarakat yang ada ke arah kondisi dan taraf kehidupan yang lebih santun. Di sini terkandung arti bahwa pembangunan sebenarnya merupakan suatu perubahan sosial, yang mau tidak mau merujuk pada terjadinya perubahan tingkah laku individu warga masyarakat yang sedang membangun. Fuad Hassan menyatakan bahwa hakiki manusia adalah kemampuan manusia untuk menjadi dirinya sendiri dan kemudian mengembangkan kehidupannya dalam suatu keadaan yang menjadi pilihannya. Manusia berpeluang untuk diarahkan agar bisa menumbuhkan motivasi, sehingga di setiap saat dan situasi ia selalu berusaha mencari peluang dan kesempatan yang menarik keinginan dan perhatiannya untuk memenuhi kebutuhan aktualisasi diri. Di setiap saat dan situasi manusia dihadapkan pada berbagai alternatif pilihan. Ia memerlukan kebebasan untuk dapat menentukan pilihan yang baik, yaitu pilihan dengan kapasitas, bakat serta minat atau kebutuhannya secara umum. Dengan kebebasan itu barulah ia leluasa melakukan aktuialisasi diri, menentukan arah dan pengembangan hidupnya.

Mempelajari hakiki manusia sebagai mahluk sosial, jelas bahwa ia membutuhkan kehadiran manusia lainnya, kebutuhan untuk berkelompok dan menjadi bagian dari kelompok. Membanjirnya peluang, kesempatan dan pilhan untuk aktualisasi diri sering membuat manusia hanyut sehingga melupakan hakiki yang sangat mendasar. Terbawanya manusia dalam banjir informasi menyebabkan kekaburan manusia untuk memahami perbedaan antara kebutuhan dengan keserakahan (needs and greed), butuh dan ingin (wish and need) yang kemudian mendorong manusia untuk secara terus menerus terlibat dalam kegiatan pemuasan pribadi. Dia lalu berkembang menjadi mahluk yang egosentris dan instrumental. Mereka yang tidak mampu sehingga tidak mungkin memenuhi kebutuhan aktualisasi diri akan memunculkan pesimisme dan kekhawatiran, yang bisa melahirkan ketidakpuasan dan protes terhadap kejadian di lingkungannya. Disonansi, kesenjangan generasi, kesenjangan kelas sosial-ekonomi, adalah efek samping lainnya karena usaha yang dilakukan tidak lagi sekadar ingin memiliki tetapi juga memuaskan, sementara kepuasan sifatnya relatif dan cenderung tidak berujung. Keserakahan menampilkan wajah egosentris yang kemudian melepaskan diri dari kasih sayang (Gromm). Kemudahan komunikasi membuat individu melupakan peran-peran lain dalam kehidupan, terutama yang menyangkut kehidupan interdependensi. AKU menjadi sangat menonjol. Situasi ini bisa menjadi pemicu bagi pemunculan pribadi yang kehilangan kontrol diri.

Psikologi sebagai ilmu yang kajian utamanya adalah perilaku manusia terkait erat dengan telaah proses pembentukan perilaku, yang hasilnya bisa disumbangkan sebagai intervensi dalam pembentukan perilaku Manusia Indonesia Abad 21 Yang Berkualitas Tinggi. Keterlibatan dalam upaya rekayasa tingkah laku, baik dalam kapasitas sebagai sarana belajar maupun bimbingan dan penyuluhan, perlu dilakukan untuk mendapatkan wawasan tentang konteks dan lingkungan serta eksistensi manusia. Cara yang bisa ditempuh dalam upaya rekayasa ini adalah melakukan usaha yang berkesinambungan dengan memperhitungkan dukungan kelompok maupun dukungan masyarakat. Untuk itu kerjasama dengan berbagai disiplin ilmu lainnya terasa sangat bermakna. Psikologi akan memfokuskan pada upaya pembangkitan kebutuhan untuk berubah agar bisa menjadi pendorong (motivasi) dalam proses perubahan tingkah laku yang diharapkan. Pembekalan individu dengan pengetahuan dan keterampilan yang cukup harus dilakukan agar ia mampu melaksanakan perubahan tingkah laku yang diharapkan, yang sudah beralih menjadi kebutuhan pribadi dan bukan kebutuhan yang bersifat eksternal. Dalam upaya ini harus diciptakan kesempatan bagi individu untuk memecahkan masalah berkaitan dengan adopsi tingkah laku dalam kondisi nyata. Penelitian yang dilakukan oleh Bernadette N. Setiadi (1987), Yaumil A. Achir (1990), Iman Santoso Sukardi (1991) dan Soesmaliyah Soewondo (1991) membuktikan bahwa usaha merubah tingkah laku manusia dapat dilakukan melalui intervensi terencana perubahan tingkah laku.

Dengan mengembangkan teori serta intervensi dalam pola asuh yang khas Indonesia, pengalaman daur belajar Kolb dan intervensi perubahan tingkah laku Mc Clelland yang diadaptasikan ke Indonesia serta pengembangan intervensi lain dalam keterampilan hubungan antar manusia, membuktikan bahwa psikologi mampu berbuat sesuatu dalam rangka menyongsong era globalisasi. Yang diperlukan adalah intervensi terencana yang menekankan analisis kebutuhan individu dan masyarakat, pengembangan iklim belajar partisipatif, penciptaan dukungan kelompok serta pemanfaatan seluruh sumber sebagai sarana belajar. Dalam rekayasa terencana perlu dilihat, mana nilai-nilai tradisional yang masih bisa dipertahankan dan dikembangkan, mana pula yang harus ditinggalkan karena sudah tidak sesuai, bahkan bisa menghambat.

Dalam rangka globalisasi ternyata manusia Indonesia mengalami perubahan peta kognitif, pengembangan dan kemajemukan kebutuhan serta pergeseran prioritas dalam tata nilainya. Kesemuanya tampil dalam perilakunya yang egosentris, instrumental, jalan pintas, etos kerja yag lemah dan kurang peka terhadap masalah yang tidak menyangkut kepentingannya. Padahal era abad 21 memerlukan manusia Indonesia yang tangguh, yang harus menampilkan tingkah laku yang diwarnai dengan etos kerja, prestatif, religius, peka terhadap lingkungan, inovatif dan mandiri. Pertanyaannya adalah, sejauh mana manusia Indonesia bisa dibantu untuk menemukan jati dirinya dan mampu beradaptasi terhadap tarikan dan pengaruh globalisasi masyarakat dunia. Selain itu perlu dicermati pula, berapa banyak yang ‘masih tersisa’ saat ini untuk bisa diajak memasuki abad 21 secara produktif? Berapa bagian dan seberapa luas kerusakan yang sudah terjadi? Di lapisan mana kerusakan itu terjadi dan di tingkat mana yang masih menjanjikan harapan untuk pembentukan perilaku yang adaptif dalam memasuki abad 21?

VII. PENGEMBANGAN POLA PERILAKU MANUSIA INDONESIA YANG BERKUALITAS TINGGI DALAM MASYARAKAT ABAD 21Sebagaimana telah diuraikan di atas, ada dua kemungkinan pembentukan pola perilaku manusia Indonesia dalam memasuki abad 21, yang diwarnai oleh latar belakang sejarah bangsa dan negara selama ini, yaitu:

menjadi bangsa yang memiliki self efficacy
menjadi bangsa yang mengalami learned helplessness
Era Reformasi membukakan kenyataan, betapa banyak unsur penting lainnya dalam upaya pengembangan Manusia Indonesia yang seolah terlupakan dalam membangun bangsa dan negara dalam masa Orde Baru, yang antara lain menjadi penyebab munculnya perilaku yang mengarah kepada perbuatan Korupsi, Kolusi, Koncoisme, Nepotisme (KKKN). Kesadaran tersebut lalu mendorong keinginan untuk membenahi perilaku Manusia Indonesia dari sikap yang cenderung KKKN menjadi perilaku yang Bersih, Transparan, Profesional. Keinginan untuk memunculkan Manusia Indonesia yang bersih, transparan, dan profesional dalam menjalani kehidupannya sangat diperlukan, apapun yang dilakukannya, di manapun posisinya. Kehidupan Abad 21 menyiratkan tantangan yang lebih luas dalam berkompetisi di era globalisasi. Pengembangan perilaku bersih, transparan, dan profesional menjadi persyaratan bagi Manusia Indonesia agar bisa berkualitas tinggi dan mampu mengambil posisi dalam persaingan di kancah dunia dan memanfaatkannya dengan baik. Sebaliknya, perilaku yang mencerminkan KKKN harus ditinggalkan.

Peristiwa di Bulan Mei 1998 dan hari-hari berikutnya telah menunjukkan betapa kompleksnya permasalahan yang harus diperhatikan dalam upaya meningkatkan kualitas Manusia Indonesia. Ada masalah budaya, ada masalah sosial, ada masalah agama yang secara psikologis menjadi dasar pengembangan sikap dan perilaku, selain masalah ekonomi dan harapan untuk bisa mengambil posisi dalam mengantisipasi globalisasi dan perkembangan teknologi. Pemahaman diri sebagai Manusia Indonesia perlu dimiliki agar dapat menempatkan diri dan mengembangkan hubungan dengan lingkungan, baik dalam skala kecil maupun percaturan yang lebih luas. Negara dan bangsa memerlukan Manusia Indonesia yang mencerminkan pandangan, sikap, dan perilaku warga Republik Indonesia (siapapun dia, dari kelompok mana pun - etnik, kelas sosial, agama, pendidikan, kemampuan ekonomi). Era globalisasi yang semakin terasa denyutnya memerlukan penampilan Manusia Indonesia yang berkualitas tinggi, sehingga dapat mengikuti perkembangan dunia, yang selanjutnya akan dapat menghasilkan peran serta aktif di berbagai bidang (pertanian, perdagangan, perindustrian, teknologi, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya).

Manusia Indonesia yang berkualitas tinggi, dengan latar belakang berbagai periode yang telah dijalaninya memerlukan kajian lintas disiplin ilmu agar bisa dirumuskan secara jelas dan tegas. Dalam kaitan ini sangat disadari bahwa kompleksitas permasalahan yang dihadapi dalam memunculkannya sekaligus mensyaratkan adanya dialog/komunikasi yang bersifat saling isi dan melengkapi antar berbagai ilmu yang terkait, sesuai dengan kondisi dan situasinya. Forum Organisasi Profesi Ilmiah Indonesia (FOPI) yang beranggotakan berbagai Organisasi Profesi Ilmiah (OPI) diharapkan secara ilmiah mampu merumuskan Manusia Indonesia Abad 21 Yang Berkualitas Tinggi sehingga arah pembangunan bangsa dan negara pun bisa ditata lebih baik. Untuk itu perlu dicarikan upaya agar dapat memberdayakan Manusia Indonesia dengan meningkatkan kualitas ketangguhan dan kemandirian dengan tetap peduli lingkungan (alam, sosial, budaya) sehingga lebih mampu menyikapi berbagai perubahan kondisi dan situasi. Hasil kajian tersebut diharapkan dapat memunculkan karakteristik Manusia Indonesia yang berkualitas tinggi, yang menggambarkan manusia dan budayanya (akhlak, moral, budi pekerti) serta kaitannya dengan kehidupan lingkungan (kependudukan, politik, ekonomi, sosial, alam). Gambaran tersebut kemudian dikaitkan dengan kondisi dan situasi yang harus dihadapi masyarakat Indonesia di masa depan, sehingga bisa dicarikan berbagai alternatif upaya yang perlu dan harus dilakukan agar Manusia Indonesia bisa menerima dan memahami dirinya serta mampu menyesuaikan diri dengan kondisi dan situasi lingkungan pada jamannya.

John J. Macionis (1996) mengemukakan bahwa abad 21 menyiratkan ketidakjelasan terhadap ukuran keberhasilan yang bisa dijadikan keteladanan. Sukar sekali menutupi kejadian yang tak ingin disebarluaskan, baik untuk pertimbangan menghormati hak asasi manusia maupun kecanggihan teknologi komunikasi. Banyak masalah yang masih harus dijawab dalam memasuki abad 21, antara lain merumuskan makna kehidupan, pemecahan sengketa/konflik antar bangsa/negara, pengentasan kemiskinan yang tidak hanya terkait dengan masalah populasi (pertambahan penduduk) dalam hubungannya dengan ketersediaan sumber daya alam yang makin terbatas. Abad 21 mengisaratkan perlunya wawasan pikir yang lebih luas, imajinasi, rasa kasihan atau simpati, dan keteguhan hati. Pemahaman yang luas terhadap kehidupan bersama akan menjadi dasar yang kuat bagi upaya membantu manusia memasuki abad 21 dengan sikap optimis.

Ada lima cara yang dikemukakan Macionis dalam pembentukan perilaku yang mencerminkan pemahaman sosialisasi, yaitu:

teori Id, Ego, Superego dari Sigmund Freud (1856-1939)
teori Perkembangan Kognitif dari Jean Piaget (1896-1980)
teori Perkembangan Moral dari Lawrence Kohlberg (1981)
teori Gender dari Carol Gilligan (1982)
teori "Social Self" dari George Herbert Mead (1863-1931)
Jalur yang bisa digunakan untuk membentuk perilaku yang mencerminkan kemampuan sosialisasi adalah:

keluarga
sekolah
kelompok sebaya
media massa
opini publik
Sedangkan proses sosialisasi bisa berlangsung sepanjang kehidupan, yakni sejak kanak-kanak, pra remaja, remaja, dewasa muda, dewasa, lanjut usia.

Harapan untuk dapat membantu masyarakat dalam mewujudkan perilaku Manusia Indonesia Abad 21 Yang Berkualitas Tinggi bisa mengacu pada kerangka pikir tersebut (untuk pemahaman, proses dan pembentukan perilaku dalam upaya sosialisasi), terutama dalam upaya membentuk manusia yang cerdas, terampil, tangguh, mandiri, berdaya saing tinggi tapi juga punya hati nurani, yang membuatnya peduli dan tidak individualis. Untuk itu perlu dipahami dulu kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Berdasarkan teori perkembangan moral dari Kohlberg, masyarakat Indonesia terbagi dalam tiga kelompok moralitas. Kelompok pertama menyandarkan perilakunya pada pengertian benar dan salah, baik dan buruk berdasarkan reaksi yang diterimanya dari lingkungan. Bagi kelompok ini, keputusan benar salah, baik buruk harus bisa dipahami secara nyata, bukan sesuatu yang bersifat abstrak. Bentuk hukuman dan pujian/penghargaan harus dipahami sesuai dengan tingkat kemampuan mereka, antara lain taraf kecerdasannya. Penempatan patung-patung polisi lalu lintas di berbagai kota (Bogor, pinggiran kota Bandung, Surabaya, Padang) adalah contoh pemahaman "hitam putih" dalam usaha pengawasan perilaku. Kehadiran polisi secara fisik (terlihat) menjadi penting daripada hanya sekadar penempatan rambu-rambu lalu lintas. Kelompok ini lebih terfokus pada pikiran dan pertimbangannya sendiri, menggunakan ukurannya sendiri dan tidak terlalu mampu mempertimbangkannya dalam perspektif yang lebih luas. Kelompok kedua sudah lebih luas pandangannya, sehingga pemahaman terhadap norma dalam kehidupan bersama, yang mengacu pada kehidupan bersama, bisa diharapkan. Kepedulian dan kebutuhan mendapatkan predikat sebagai warga masyarakat yang baik sudah dimiliki. Kelompok ketiga memiliki tingkat pemahaman dan kesadaran yang lebih tinggi mengenai perlunya norma dalam kehidupan bersama agar dapat mencapai rasa aman dan nyaman. Pengelompokan tersebut seharusnya dijadikan patokan dalam mengembangkan aturan berikut sanksinya. Meskipun secara umum tetap bersumber pada acuan hukum yang sama, tetapi dalam penyampaian informasi dan terapannya sangat perlu memperhatikan kondisi psikologis masing-masing kelompok, sehingga bisa diterima dan dilaksanakan dengan baik.

Bagi masyarakat Indonesia yang secara mayoritas mencerminkan pola patrilineal, adanya figur yang bisa dijadikan pegangan menjadi sangat penting. Figur tersebut harus dapat mencerminkan tokoh yang dikagumi dan bisa dipercaya, yang antara lain bisa dilihat dari sikap dan perilakunya dalam kehidupan keseharian sebagai pribadi maupun dalam melaksanakan tugasnya. Perasaan diperlakukan secara adil, yang antara lain merasa memiliki hak dan kewajiban yang sama di depan hukum, menjadi syarat utama bagi tumbuhnya kepercayaan kepada pimpinan negara dan aparat penegak hukum. Segala bentuk kekecualian akan mengurangi bobot aturan yang ditetapkan. Apalagi kalau figur yang seharusnya menjadi panutan ternyata menampilkan perilaku yang tidak sesuai dengan aturan yang telah disepakati bersama. Bentuk masyarakat Indonesia yang sangat heterogen juga harus diperhatikan. Sejalan dengan hal tersebut maka penyusunan undang-undang dan peraturan penjelasan serta kelengkapannya harus disampaikan dalam bentuk komunikasi yang efektif, sesuai karakteristik masing-masing kelompok.

Untuk bisa menjaga agar perilaku masyarakat tetap produktif dalam upaya menegakkan kewibawaan pemerintah, ketertiban dan ketenteraman bersama, masyarakat yang seolah baru terbangun dan mulai sadar atas hak-haknya sebagai individu maupun sebagai warga negara, yang kemudian memunculkan berbagai bentuk perilaku ‘terkejut’ harus segera diarahkan dan dibimbing, sehingga reformasi bisa tetap sesuai dengan jiwanya ketika diperjuangkan oleh mahasiswa. Perilaku beberapa pihak yang saling tunjuk, saling menghujat, saling menghakimi tanpa mengindahkan prosedur hukum/aturan/tatanan yang berlaku perlu segera diatasi, sebelum menyesatkan masyarakat dalam pengembangan pola pikir dan tindakan yang jauh dari kehidupan sadar hukum.

Pemulihan kepercayaan masyarakat tidak hanya diperlukan untuk mengembalikan kondisi dalam negeri, tetapi juga bagi dunia internasional dalam menentukan sikap dan kebijaksanaan politik maupun ekonomi terhadap Indonesia. Beban psikologis ini amat berat. Persoalannya adalah seberapa jauh pemerintah dan seluruh jajarannya menyadari hal ini? Apakah masyarakat juga bisa melihat persoalan ini dalam skala pikir yang lebih luas dari hanya sekadar memikirkan kepentingannya sendiri? Dapatkah mereka melihat dirinya sebagai bagian dari kepentingan bersama, selaku anggota masyarakat dan warga negara? Pemerintah dan masyarakat harus bersama-sama menyelesaikan persoalan ini sebagai kepentingan yang tak bisa ditawar untuk dapat mempertahankan keutuhan dan kesatuan bangsa dan negara. Untuk itu sangat perlu dimasyarakatkan secara luas dan terbuka mengenai kondisi dan situasi yang dihadapi bersama agar pemerintah dan masyarakat bisa bahu membahu dalam upaya penyelesaiannya, yang tentunya harus sangat memperhitungkan karakter masing-masing kelompok, sehingga bentuk dan jalur penyampaiannya bisa disesuaikan dan kemudian bisa dipahami sebagaimana mestinya.

Hal lain yang memerlukan perhatian pemerintah untuk dapat memulihkan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah adalah koordinasi yang baik antara seluruh aparat/jajaran pemerintah. Pernyataan dan tindakan yang terkesan kontradiktif antar departemen harus dihindarkan. Sebelum memberikan pernyataan, baik sebagai tanggapan maupun rumusan kebijaksanaan, seyogianya sudah ada pemahaman dan kesepakatan di antara para anggota kabinet dan aparat/jajaran di bawahnya yang terkait. Dengan demikian masyarakat tidak seperti penonton yang kebingungan, sebab tidak ada yang bisa dijadikan pegangan secara jelas, yang akibatnya memunculkan perilaku yang dikembangkan atas interpretasi sendiri. Kondisi ini dapat memunculkan situasi yang rawan bagi kehidupan bersama, sebab tak ada acuan yang jelas dan tak ada kepastian yang bisa dipercaya untuk dijadikan pedoman.

Transparansi atau keterbukaan dalam menjalankan pemerintahan masih perlu dilakukan secara selektif, sesuai karakter masyarakat yang dihadapi supaya tidak berubah menjadi bentuk perilaku yang seenaknya menuntut dan menghujat orang/pihak lain, sedangkan di sisi lain menepuk dada atau menganggap diri paling benar dan bersih. Kehidupan demokrasi yang sesungguhnya harus dijabarkan secara operasional di tiap tingkatan kemampuan masyarakat dalam memahaminya, sesuai karakter kelompok-kelompok yang ada. Pendekatan persuasif dan tidak sekadar responsif sangat diperlukan, yang bisa dilakukan dalam bentuk pendidikan masyarakat dalam hal kesadaran hidup berbangsa dan bernegara, yang menyiratkan rasa kebersamaan, bahu membahu, saling isi, saling melengkapi. Tatanan kehidupan menurut adat dan agama harus jelas posisinya dalam tatanan hukum negara, sehingga aspirasi dan kebutuhan masyarakat bisa tertampung dengan baik dan tidak menimbulkan gejolak yang merugikan kehidupan bersama. Aturan yang meliputi seluruh kehidupan, antara lain dalam ketentuan mengenai tanah adat, kehidupan beragama, kehidupan masyarakat yang berlandaskan bhinneka tunggal ika, kesempatan memperoleh pendidikan/pekerjaan, kenyamanan dan jaminan keamanan dalam bekerja, corak kehidupan perkawinan/keluarga sesuai kondisi jaman perlu ditelaah untuk bisa memenuhi aspirasi masyarakat.

VIII. PENUTUPManusia Indonesia Abad 21 Yang Berkualitas Tinggi ditandai oleh lima ciri utama dari aspek-aspek perkembangan yang berlangsung secara seimbang dan selaras, yaitu perkembangan tubuh (fisik), kecerdasan (inteligensi), emosional (afeksi), sosialisasi, spiritual. Pola perawatan, asuhan, dan pendidikan anak hendaknya mengacu pada upaya pengembangan kelima aspek tersebut secara harmonis dan seimbang agar terbentuk pribadi yang sehat, cerdas, peka (sensitif), luwes beradaptasi dan bersandar pada hati nurani dalam bersikap dan bertindak. Dengan demikian meskipun ia berhadapan dengan gaya hidup global, pijakannya pada akar kehidupan tradisional yang menjadi cikal bakal kehidupan bangsa dan negaranya tidak akan hanyut terbawa arus kehidupan global. Justru ia akan dapat memilih dan memutuskan yang terbaik untuk diri, bangsa dan negaranya, baik untuk keperluan jangka pendek maupun jangka panjang. Penegakan hukum dan contoh yang diperlukan sebagai model pembentukan perilaku, baik yang ditunjukkan orang tua maupun masyarakat, menjadi penting.

Kerjasama antar disiplin ilmu dalam memecahkan masalah yang dihadapi saat ini sangat diperlukan. Pembangunan harus diarahkan pada cita-cita bangsa dan negara ketika republik ini didirikan. Kebersamaan menjadi penting untuk dapat menjaga kesatuan dan persatuan. Menyadari keterbatasan kemampuan diri sebagai individu dan kelebihan bekerja sama akan dapat menghindarkan suasana yang saling tuding, saling hujat, saling mencemooh, saling menepuk dada, saling melecehkan, adu kuasa dan adu kekuatan seperti yang tampak sekarang ini. Selain merugikan kehidupan bangsa dan negara, memunculkan ancaman perpecahan, perilaku tersebut tidak akan menempatkan individu dalam proses belajar memahami dan mentaati hukum. Padahal, era globalisasi di abad 21 akan menghadapkan manusia Indonesia pada hukum dan tatanan kehidupan bersama yang lebih luas, tidak hanya dalam batas wilayah Republik Indonesia. Perilaku sadar hukum adalah sebagian dari persyaratan yang diajukan abad 21. Siapkah kita membentuknya? Tahukah kita cara membentuknya? Jawaban pertanyaan ini akan menentukan corak individu yang menandai masyarakat Indonesia abad 21, apakah kita akan menjadi bangsa yang mengalami "learned helplessness", apatis, tidak percaya diri dan tidak mampu bersaing di tatanan global atau menjadi bangsa yang memiliki self-efficacy, percaya diri dan mampu bersaing di tatanan global.

Agar bangsa dan negara ini tidak semakin terpuruk karena terpaksa mengalami "learned helplessness" seharusnya pemerintah dan masyarakat mampu menumbuhkan motivasi berprestasi tinggi atau dikenal sebagai need for achievement (Mc Clelland). Menurut teori Maslow, manusia Indonesia harus didorong sampai pengembangan motivasi untuk mampu mengaktualisasi diri dan tidak terhenti pada motivasi pemenuhan kebutuhan hidup yang mendasar saja.

Dalam kaitan dengan pembangunan selanjutnya, ada pertanyaan yang masih harus dijawab, terutama mengacu pada pengalaman kita selama ini, akankah kita masih terkotak-kotak dalam menyelenggarakan pembangunan? Dapatkah kita menempatkan manusia sebagai individu dengan segala keunikannya sehingga tidak memperlakukannya sebagai obyek semata? Atau kita masih tetap beranggapan bahwa masyarakat yang terdiri dari kumpulan individu adalah sekadar obyek, yang bisa diatasi dengan "dua K" yaitu kekuatan dan kekuasaan. Kalau jawabannya "Ya," maka cita-cita untuk mewujudkan Manusia Indonesia Abad 21 Yang Berkualitas Tinggi barangkali cuma angan-angan, seperti membangun rumah di atas angin.

DAFTAR PUSTAKABandura, A. (1986). Social Foundations of Thought and Action: A Social Cognitive Theory. Englewood, New Jersey: Prentice Hall, Inc

Deaux, K., Dane, F.C., Wrightsman, L.S., In association with Sigelman, C.K. (1993). Social Psychology in the ‘90s (6th Ed.). Pacific Groove, California: Brooks/Cole Publishing Company.

Feldman, R.S. (1990): Understanding Psychology (2nd Ed). Mc Graw Hill Publishing Company.

FOPI (1998): Kerangka Acuan "Curah Pikir" Manusia Indonesia Abad 21 Yang Berkualitas Tinggi. FOPI. Jakarta, Agustus 1998

Friedman, L.M. (1984). Legal Culture: Legitimacy and Morality. In American Law. London: W.W. Norton Company.

Golding, M.P. (1975), Philosophy of Law. Englewood, New Jersey: Prentice Hall, Inc.

Himpsi (1991): Membangun Manusia Tangguh Dalam Era Globalisasi, kumpulan makalah Kongres V dan Temu Ilmiah ISPSI (sekarang Himpsi), Semarang 4-7 Desember 1991. Himpsi Pusat.

Himpsi (1998): Pokok-Pokok Pemikiran Himpsi tentang Upaya Penegakan Hukum di Indonesia Dalam Rangka Memulihkan Kepercayaan Masyarakat Kepada Pemerintah, konsep masukan kepada pemerintah. Himpsi Pusat, Agustus 1998.

Lev, D.S. (1990). Hukum dan Politik di Indonesia. Penerjemah, Nirwono dan A.K. Priyono. Jakarta LP3ES.

Macionis, J.J. (1996): Society, The Basics (3rd Ed). Upper Saddle River, New Jersey. Prentice Hall, Inc.

Martin, G. & Pear, J. (1992). Behavior Modification (4th Ed.). Englewood, New Jersey: Prentice Hall, Inc.

Poernomo SS, I (1997): Era Globalisasi, Tantangan atau Ancaman? Makalah disampaikan pada Acara Seminar Sehari "Kiat-Kiat Mendidik Anak Dalam Menyongsong Era Globalisasi" diselenggarakan oleh Ikatan Isteri Dokter Indonesia Cabang Jakarta Barat, Jakarta 6 September 1997.

Poernomo SS, I (1998): Saat Tepat Mengajar Anak Hidup Susah. Makalah disampaikan pada acara Temu Pakar dan Pembaca, diselenggarakan oleh Majalah Ayahbunda, Jakarta 28 Agustus 1998.

Poespowardojo, S (1998). Kondisi Budaya Dewasa ini dan Implikasinya bagi Dunia Pendidikan. Makalah disampaikan dalam pertemuan Konsep Pendidikan Tinggi Katolik di Universitas Katolik Atma Jaya Yogyakarta, 16 Januari.

Seran, A. (1997). Hukum dan Moral: Refleksi Etis Atas Paham Mengenai Hukum Yang Baik. Atma Jaya, Tahun X No. 3, 1-15.

Setiadi, B.N. & Indarwahyanti G, B.K. (1998): Peranan Hukum Dalam Pembaharuan Pola Perilaku Masyarakat. Makalah disampaikan pada Simposium Kepedulian Universitas Indonesia terhadap Tatanan Masa Depan Indonesia, Depok 30 Maret-1 April 1998

Sumber : http://www.himpsi.org/